Ini kisah cinta tentang seorang gadis cantik yang buta dan si tampan yang tuli. Tuhan mempertemukan mereka di sebuah taman saat cuaca mendung yang berakhir hujan deras. Hingga pertemuan mereka berlanjut dan memulai sebuah kisah cinta yang rumit. Mereka harus berkorban dan memperjuangkan cinta mereka walaupun mereka memiliki kekurangan masing-masing. Bagaimanakah akhir kisah mereka?
~ Prolog ~
Kita tidak seperti mereka. Kita memiliki keterbatasan
untuk berkomunikasi, kau yang tidak bisa mendengar suara lembutku dan aku yang
tidak bisa melihat wajah tampanmu. Tapi kita yakin dan percaya, ketulusan cinta
ini yang telah membawa cinta kita pada sebuah cinta sejati..
Namaku A-Chen, usiaku kini beranjak 23 tahun. Aku
bukanlah seorang gadis remaja lagi. Ketika usiaku masih 12 tahun aku layaknya
anak-anak normal, dengan penglihatan mata yang sempurna, aku bisa melihat wajah
ibuku yang cantik dan ayahku bentuk wajahnya yang bulat dengan hidungnya yang
begitu mancung, dan kakakku yang cantik, dia adalah bunga di kampusnya saat
itu. Tapi, setelah aku berumur 17 tahun, saat aku pulang sekolah, tepatnya
waktu itu aku dan teman-temanku bercanda tentang guru fisika kami yang killer,
dan peristiwa yang tidak aku inginkan terjadi. Aku kecelakaan, sebuah truk
kecil menabrak tubuhku dan aku terhempas, saat itu aku tidak tahu bagaimana
hidupku saat itu, hingga satu bulan kemudian aku terbangun, ternyata setelah
kecelakaan itu aku koma. Tapi, ada apa dengan mataku? Mengapa semuanya terlihat
gelap? Aku menjerit, ibu memberitahuku bahwaaku kehilangan penglihatan
normalku. Aku buta.
Di masa remaja yang seharusnya begitu indah kulalui
dengan mata yang sempurna, kini hanya kegelapan yang kurasakan. Hanya sebuah
tongkat yang membantuku berjalan dan merasakan langkahku. Sesungguhnya aku tidak
bisa terima kenyataan ini, apalgi teman teman ku menjauhiku. Pacarku, Han Goh,
kami pernah berjanji apapun yang terjadi pada diri kami, kami akan tetap
bersama, tetapi kenyataannya dia menjauh hanya karena aku buta. Kini, Aku
sendiri. Sepi.
Angin sepoi terasa di kulitku. Aku menggenggam walkman
yang selalu aku bawa kemana pun aku pergi. Dengan tongkat yang selalu ku pegang
untuk memberi petunjuk langkahku. Sore yang sedikit mendung ini, kupaksakan
untuk berjalan menuju taman kota yang tidak jauh dari komplek tempat tinggalku.
Aku senang merasakan angin sore seperti ini.
Kupasangkan sebuah headset di kupingku, kuputar sebuah
lagu klasik. Kurasakan setiap melody yang mengalir pada lagu klasik ini.
Air hujan menetes perlahan membasahi kulitku yang
putih. Derapan langkah kaki orang-orang di taman terdengar di kupingku. Hujan
deras nyaring sekali terdengar. Mereka semua sibuk berlari untuk mencari tempat
berteduh. Aku lepaskan hedset dari telingaku. Aku bingung dan kehilangan akal.
Sebuah genggaman lembut tangan seseorang mengagetkanku. Dia menarik tanganku,
aku takut. Aku takut ada orang jahat mencoba memanfaatkan situasi seperti ini.
“Kau siapaa?!!” Tanyaku dengan nada cemas. Tidak ada
jawaban. Tangannya tidak terlepas dari tanganku.
“Hey!! Kau orang jahat yang ingin mencoba menculikku?”
Hening, hanya suara hujan yang kudengar. Pegangan
tangan itu menuntunku pada suatu tempat yang aku tidak tahu, tetapi tidak
kurasakan lagi hujan mengalir di kulitku.
“Dimana ini? Beritahu aku!!! Atau aku akan teriak!!”
“Aku bukan orang jahat, aku hanya mengajakmu untuk
berteduh” suaranya sangat tidak jelas dan aku tidak begitu mengeti dengan
perkataannya.
“Apa Kau tidak bisa berbicara dengan jelas, huh?”
Ujarku dengan nada yang menekan.
“Kak Sin Hui, disini kau rupanyaa.. Ini coke buatmu!!”
Terdengar suara gadis yang kuperkirakan umurnya mungkin sebelas tahun, Sin Hui?
Nama lelaki ini Sin Hui?
“Dia siapa, kak?” Tanya gadis itu lagi.
Gadis itu mendekatiku dan membisikkan sesuatu padaku.
“Maaf, kakakku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Dia tuli. Kakakku bukan orang
jahat, dia hanya ingin membantumu berteduh, aku hanya menyampaikan pesan
kakakku yang ditulisnya tadi.”
Lelaki itu tuli. Aku merasa bersalah dengan ucapanku
yang sedikit kasar seperti tadi.
“Bilang pada kakakmu, aku minta maaf atas sikapku yang
tadi dan aku berterimakasih atas kebaikan kakakmu padaku.” Ucapku lembut pada
gadis itu.
“Baiklah, akan kusampaikan..”
“Namaku A-chen.”
“Aku Lie Hua. Kakakku ini namanya Sin Hui.”
Sebuah taksi berhenti di depan kami.
“Kau mau ikut dengan kami? Aku akan meminta pak sopir
untuk menuju rumahmu..”
Aku menganggukan kepala.
“Kita sudah sampai di rumahmu. Perlu aku bantu?”
“Tidak perlu. Terima kasih.” Aku membuka pintu mobil
perlahan.
Aku berjalan menuju pagar rumah.
“Hey!! Kakakku bilang dia ingin bertemu denganmu lagi
besok sore di taman tadi. Kuharap kau memenuhi permintaannya..” Teriak gadis
itu. Aku menganggukan kepala, tapi aku tidak janji.. gumamku lirih.
Aku duduk di taman di tempat yang sama dan jam yang
sama. Hari ini aku penuhi janjiku pada lelaki semalam itu. Mana dia? Aku belum
merasakan kehadirannya. Dep! sepertinya dia datang, aku bisa merasakan
kehadirannya karena wangi parfumnya sama seperti wangi parfum yang kurasakan
semalam saat dia menggenggan tanganku.
“Apa itu kau sin Hui?” Tanyaku perlahan
“I.. ya..” Suara samar nya (suara penderita tuli saat
memaksakan untuk berbicara).
“Terima kasih karena sudah datang, aku ingin
mengenalmu lagi..” Sambungnya lagi, sepertinya dia mengulurkan tangannya
padaku, aku sentuh perlahan permukaan kulit tangannya. Aku jabat tangannya. Aku
memberi senyumku untuknya. Dan aku yakin dia juga membalas senyumanku itu.
“Aku sangat senang bertemu dengan gadis secantik
kamu..” Lirihnyaa
Aku menganggukan kepalaku.
Tiba-tiba saja Jantungku terasa lebih cepat berdetak
dari biasanya, dan darahku mendesir hebat. Kemudian aku merasakan sentuhan
tangan di ubun-ubun kepalaku, lembut sekali sentuhannya itu. Aku semakin merasa
grogi yang hebat. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini lagi
sejak Han Goh tidak mempedulikanku dan menjauhi dariku yang membuat kami harus
berpisah.
Kini tangannya jatuh pada telapak tanganku,
digenggamnya perlahan. Entah mengapa aku tidak menolaknya.
Kemudian dia melepaskannya. “Maaf..” Ucapnya. Aku
hanya tersenyum simpul.
Sejak hari itu, di hari-hariku aku selalu membayangkan
sosok Sin Hui. Aku tidak tahu bagaimana wajahnya. Tapi aku yakin dia lelaki
yang tampan, karena yang kutahu dia adalah lelaki yang lembut. Dia sangat
lembut memperlakukanku. Mungkin aku telah jatuh cinta pada lelaki itu. Aku
merasa bahagia bila dia duduk di sampingku. setiap hari, tepatnya sore hari.
Karena Sin Hui selalu datang disaat itu. Orangtuaku juga melihat perbedaan yang
jauh sebelum dan setelah aku bertemu dengannya. Aku lebih sering menyisir
rambut panjangku, dan kata ibu aku lebih ceria daripada biasanya.
Aku duduk di taman seperti biasa, aku menunggu
seseorang. Tepatnya, Sin Hui. Mungkin aku sudah menunggunya setengah jam yang
lalu. Aku harus sabar menunggunya, aku yakin dia pasti datang.
Drepp.. Suara derit bangku taman, itu pasti Sin Hui.
Benarkan kataku dia pasti datang..
“Kau itu Sin Hui..” Kataku dengan suara lembut.
“Aku bukan Sin Hui, aku Yen tzu.” Jawabnya.
Tersirat kekecewaan di hatiku. Ternyata yang datang
bukan Sin Hui. Yen Tzu? Dia… gumamku
“Yen Tzu? Kau…”
“Iya, aku teman smp kau dulu. Apa kabar? Kau terlihat
lebih cantik sekarang..” Ujarnya. “Aku baik, bagaimana denganmu?”
“Yah seperti ini, kau tiap hari datang duduk disini?”
Aku menganggukan kepalaku. Dia diam. “Mau ku traktir
makan mie di kedai mie kho huan? Tidak jauh dari taman ini, aku yakin kau tidak
akan kecewa mencoba mie satu itu..”
“Benar ya, kau yang traktir aku..” Ujarku sambil
tertawa pelan.
Yen Tzu, dia adalah teman satu kelasku saat aku smp.
Aku pernah menyukainya selama smp. Dan dia juga tahu bahwa aku menyukainya saat
itu, tapi cintaku ini bertepuk sebelah tangan karena Yen tzu telah memiliki
Huang Shin murid dari kelas 8-1.
“Bagaimana? Rasanya enak kan?” Tanya nya saat aku
terlihat sangat menikmati mie di kedai mie Kho Huan.
“Iyaa kau benar, aku belum pernah merasakan makan mi
selezat ini..”
“Aku senang melihat kau bahagia seperti ini..” Ujarnya
pelan.
Meskipun aku sangat menikmati mie seenak ini, rasanya
kurang bila tanpa Sin Hui di sampingku. Aku merindukannya. Tumben, dia tidak
menemuiku sore ini. Sin Hui kau dimanaa.. desisku lirih.
—
Rambutku terhembus angin, cuaca hari ini kurasakan
mendung. Sejuk dan lembab. Kuharap tidak hujan, dan aku harap dia datang. Ku
mohon..
“Hai cantik..”
“Sin Hui…”
Hening. “Aku bukan Sin hui. Aku Yen tzu.. Aku ingin
berbicara penting denganmu..” Ucap Yen tzu perlahan.
“Apa? Katakan saja..”
Yen tzu memegang lengan tanganku, dan satu lagi
menggenggam tangan kananku.
“Aku menyukaimu, sebenarnya sudah lama aku memendam
rasa itu. Tapi, sejak karena aku tahu aku masih dimiliki Huang Shin, tidak
mungkin aku membalas perasaanmu itu. Kemudian, aku harus berpisah dengannya
saat keluargaku harus pindah ke Indonesia untuk bekerja disana. Kau tahu, aku
selalu memikirkan dirimu. Dan aku berjanji saat aku kembali ke Taipei aku akan
mengatakan padamu kalo aku menyukaimu..” ungkap Yen tzu panjang lebar yang
membuat aku terdiam kaku. “Bagaimana?”
“Sin Hui..” Aku merasakan Sin Hui datang, karena aku
merasakan aroma parfumnya. Derap kaki langkah yang dipercepat terdengar jelas
di kupingku. Mungkinkah Sin Hui melihat Yen Tzu dan aku? Astaga, dia pasti
salah paham..
Belum sampai aku menjawab pertanyaan Yen tzu, aku
langsung bangkit dan mengambil tongkat. Aku harus mengejar Sin Hui. Aku tidak
peduli dengan kekuranganku ini. Yang aku tahu aku harus menjelaskan
kesalahpahaman ini padanya.
“Sin Hui!!!” Teriakku keras
Brrakk!! Aku jatuh terhempas di troatoar jalan. Tangan
dan lututku terluka. Perih sekali rasanya. Yen Tzu mungkin mengejarku. Dia
menggandengku dan meletakanku di dalam mobilnya. Aku menangis dan meringis
kesakitan, aku menangis karena aku gagal mengejar Sin Hui, dan kakiku terluka.
Aku dibaringkan di atas ranjang yang terbuat dari bulu
ayam di kamarku. Ibu terlihat sangat cemas. Bisa kurasakan dari suara ibu saat
dia berbicara.
“AChen, kau terluka sayang. kenapa bisa seperti ini?”
“Maaf, bibi. Mungkin ini salahku, aku membiarkan Achen
lari begitu saja.. aku Yen Tzu teman Achen..”
“Tidak, ini bukan salahmu..” Jawabku cepat.
“Terimakasih, anak muda. Kau telah mengantarkan
putriku ini. kalian berpacaran?”
“Tidak, bu. Sudahlah ibu, jangan bertanya seperti itu lagi..”
Desisku. Ibu kembali membersihkan luka di lutut dan tanganku dan membubuhkannya
dengan obat.
Sudah seminggu aku menunggu kehadiran Sin Hui di
taman. Tapi sampai sekarang aku tidak merasakan kehadirannya. Sungguh, aku
merindukan kehadirannya. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya, apakah dia juga
merindukanku? Mungkin tidak, jika dia merindukanku dia pasti akan menemuiku.
Berbeda dengan Yen tzu, sejak dia mengantarku pulang,
hampir setiap hari dia mengunjungi rumahku, membawa buah tangan untuk keluargaku.
Sampai ibuku sangat menyukai kehadirannya, dan ibu juga meminta kami segera
berpacaran atau langsung menikah. Meski Yen tzu sedemikian perhatiannya padaku
tapi tetap saja aku tidak bisa mencintai dia lagi. Sin Hui terlanjur mencuri
hatiku lebih dulu. Tapi, Sin Hui hilang tanpa jejak, aku kehilangannya. Apa aku
harus melupakan lelaki itu?
“Ayolah, Achen. Ibu mohon menikahlah dengan Yen Tzu.
Usiamu telah cocok untuk menikah, Yen tzu juga lelaki yang sempurna dan dia
menerima semua kekuranganmu.” Ucap ibu malam itu di kamarku. Aku tidak bisa
mengeluarkan sepatah kata pun.
“Tapi bu, aku tidak pantas untuknya, aku buta dan dia
normal. Kami berbeda, bu.” Bantahku.
“Tapi, kau akan bahagia dengannya. Umur ibu juga sudah
tua, ibu ingin melihatmu menikah dan bahagia bersama pria seperti dia..”
Aku menghela napasku yang terasa berat. Sedikit sesak
di dada. Akhirnya, aku terima usulan ibu. Dan ibu segera menghubungi Yen Tzu.
Ya, Tuhan aku ingin bertemu Sin Hui dan memberitahu dia agar dia menghentikan
semua ini, katakan padanya kalau dia juga mencintaiku.
Aku duduk di taman, rasa rinduku pada sin Hui semakin
dalam. Di sisi lain aku juga sedih menerima lamaran Yen Tzu padaku. Yang
kuinginkan sekarang hanya Sin Hui. Tanpa kusadari air mata mulai menetes dari
pelapah kantung mataku. Sehebat ini perasaanku padanya. Dan sejak aku mengenal
Sin hui aku mengerti ucapan seorang penderita bisu yang samar dan hilang
timbul. Tapi terbiasa dengan keadaan seperti itu.
“Apa kabar…” Suara samar Sin Hui nyaring di kupingku.
Apa aku sedang bermimpi?
“Sin hui..”
Tidak ada jawaban, terasa hembusan nafasnya di
telingaku.
“Maaf, aku menghilang beberapa hari ini..”
Aku menelan ludahku dan menganggukan kepalaku dengan
cepat.
“Sin Hui aku akan menikah..” Ucapku perlahan. Entah
bagaimana bentuk wajahnya saat ku katakan yang sebenarnya terjadi. Hening.
Tidak ada respon.
“Kau mencintaiku kan, sin Hui? katakan!! Kau
mencintaiku kan?” Tegasku berulang.
“Kumohon jawab..” Isakku. “Aku mencintaimu kumohon
hentikan pernikahanku ini.. ku mohon…”
“Aku tuli dan bisu. Apa mungkin seorang seperti ku
bisa bersamamu. Kau pantas bersama lelaki yang normal dan sempurna seperti dia,
tapi bukan sepertiku.”
“Kau tidak mencintaiku? Aku kiraa…”
“Aku mencintaimu, tapi percuma kita bersama, kau pasti
akan menderita bersamaku..”
“Tapi aku hanya ingin dirimu.. tolong hentikan
pernikahanku..” Lirihku.
Aku merasakan sentuhan lembut tangannya di pipiku.
Diusapnya airmataku dengan tangannya. Dia mendekapkan tubuhnya padaku.
“Tolong..” Lirihku.
Sih Hui menganggukan kepalanya dan mendekappkan
tubuhku.
—
“Ibu.. Aku pulang..” Teriakku sambil terus menggenggam
jemari Sin Hui.
Ibu segera menemuiku. Mungkin dia sedikit kaget aku
pulang bersama seorang lelaki.
“Tampan sekali dia, temanmu?”
“Bukan bu, dia pacarku..” Jawabku singkat.
Ibu kaget, “kau bercanda kan? Bagaimana dengan Yen
Tzu?” Tanya ibu lagi
“Nanti saja kita bicarakan ini bu, kenalkan dia Sin
Hui..”
“Sin Hui..” Ucapnya dengan suara khasnya.
Mungkin ibu kaget, karena lelaki pilihanku itu bisu.
Ibu menarik tanganku dan mengajakku ke kamaarnya. Sin
Hui masih terpaku, mungkin dia merasa ibuku tidak akan menyetujui hubungan
kami.
“Kau bercanda? Lelaki tuli seperti dia tidak mungkin
bisa membuatmu bahagia!! pekik ibuku dengan nada tinggi.
“Tapi dia sangat baik padaku, dan aku mencintainya
bu..”
“Yen Tzu lebih pantas buatmu. Kau tahu dirimu
bagaimana sekarang? Jarang sekali pria normal ingin menikahi seorang gadis
buta!!”
Tanpa terasa saat kudengar kalimat yang terurai dari
bibir ibuku, airmataku jatuh mengalir. Aku menyeka segera airmataku itu.
“Ibu keterlaluan, ibu jahat!” Aku segera pergi dengan
jalan yang kupercepat bersama tongkatku. Aku harus menemui Sin Hui lagi. Mana
dia? Aku tidak merasakan aroma parfumnya lagi. “Sin Hui..” Panggilku. Hening
tanpa jawabaan.
Aku balik ke kamarku, aku menangis sejadinya di dalam.
aku memang tidak bisa menikah dengan Yen tzu karena dia bukan lelaki yang
kucintai lagi. Tinggal dua minggu lagi pernikahan kami. Aku harus lari dari
sini, aku harus mengejar cintaku. Menikah dengan lelaki yang tidak kucintai
sama dengan membuat hidupku terus menderita.
Malam itu tepatnya tengah malam, dengan
pakaian-pakaianku yang telah kusimpan rapi ke dalam ransel, aku bersiap pergi
meniggalkan ibu dan keluargaku. Aku tahu tindakanku ini terlalu bodoh. Aku
mengendap ngendap menuju pintu depan. Kubuka perlahan pintu yang terkunci.
Srrrett! Seorang gadis buta sepertiku berjalan sendirian di tengah malam yang
gulita. Aku bingung harus pergi kemana. Kuputuskan ke taman untuk sementara.
“Achen..” Suara yang tidak asing lagi kudengar.
“Sin hui.. kau itu?” Dia seperti malaikat, dia datang
disaat kubuthkan.
“Iya. Ngapain kesini tengah malam seperti ini, kau
sudah…”
“Iya aku sudah gila, aku sudah gila karena aku rela
kabur demi mengejar cita cita ku untuk bersama kamu..” Isakku.
“Bagaimanapun kita tidak bisa menyatu. Orangtuamu
tidak mengijinkan kita bersama, dan kau akan menikah. Sudahlah, tidak perlu
bertindak bodoh lagi. Aku tidak bisa bersamamu..”
“Kau bercanda?” tatapku dengan nanar.
Aku rasakan langkah kaki sin hui, mungkin dia mencoba
pergi meninggalkanku. Aku kecewa.
“Aku rela mati daripada aku harus bersama Yen Tzu..”
Teriakku.
Sin Hui menghentikan langkahnya.
“Mengapa waktu itu kau terima lamarannya? jangan
mengecewakan orangtuamu..” Sin Hui kembali meneruskan langkahnya yang sempat
terhenti. Aku menangis sejadinya. Aku benar benar kecewa. Aku terus menatapi
bulan yang menyaksikan ratapanku ini. Hingga malam semakin larut.
“Aku akan menikahimu.. Ayo ikut denganku aku akan
mengatakan kabar gembira ini pada orangtuaku. Gadis bodoh sepertimu tidak boleh
kubiarkan sendiri menderita disini..” Aku kaget, Sin Hui datang kembali dan
mengatakan kalimat yang tidak bisa kupercaya.
Dia menarik tanganku dan membawaku pergi dengan taksi.
“Kau serius Sin Hui?” tanyaku
“Iya..” Jawabnya singkat. Aku menangis bahagia dalam
dekapan tubuhnya.
Esoknya aku dan Sin Hui bersiap untuk terbang menuju
Phuket, Thailand, dimana keluarganya berada disana. Akhirnya kami tiba di
negara yang terkenal dengan sebutan gajah putih. Sin Hui membawaku menuju rumah
orangtuanya. Setelah persetujuan keluarga Sin Hui yang sekarang berada di
Thailand, akhirnya kami merencanakan hari, tempat dan baju pernikahan kami
tersebut. Selintas aku terfikir bagaimana keadaan orangtuaku di Taipei.
Entahlah, aku akan kembali setelah semuanya berjalan dengan baik.
Hari pernikahanku tiba, aku mengenakan gaun putih yang
terurai panjang hingga menyapu lantai. Kata adiknya Sin Hui aku sangat cantik
dengan gaun ini.
Pendeta mengesahkan pernikahanku dengan Sin Hui, aku
menangis bahagia saat kami melontarkan janji setia semati. Semua bertepuk
tangan dan terharu. Suasana terasa begitu mengharukan dan membuatku menangis
bahagia karena kini aku dan Sin Hui menyatu untuk selamanya.
Lima tahun kemudian, aku dan Sin Hui telah memiliki
dua orang putri yang cantik. Kami namai Shin Chen dan A hui. Ibu salah kalau
kami bersama, kami akan menderita. Malah aku sangat bahagia, kami merintis
usaha rumput laut goreng yang telah memiliki pabrik sendiri dan telah mendunia.
Di Natal tahun ini, aku dan Sin Hui berliburan ke
Taipei. Sekalian untuk memberitahu kebehagiaanku pada ibuku yang telah lama
tidak bertemu.
Sopir kami menghentikan mobil sedan mewah kami di
depan rumahku yang masih terlihat tua. Aku menggendong A hui putriku yang masih
6 bulan. Dan Sin Hui menggandeng Sin Chen yang sudah tiga tahun. Aku mengetuk
pintu rumah, dan ibu memelukku erat. Dia menangis, “maafkan ibu, karena ibu kau
pergi dari rumah.. kalian telah menikah? Selamat ya, ibu bahagia melihat kalian
begitu bahagia dan sukses sekarang..” Ujar ibu
“Maafkan aku juga ibu, aku pergi tanpa sepengetahuan
kalian. Tapi aku sudah bilang aku tetap mengejar cintaku bu..”
“Iya iya, tidak apa.. Ayo masuk.. Hei ini cucu ibu?,
Sungguh cantik sekali mereka..”
Waktu telah membawaku pada cinta sejatiku yang tak
kupikir sangat rumit menjalaninya dengan kekurangaan kami, dan airmata dan
pernah tanpa restu orangtuaku. Tapi waktu juga yang telah membawa kami pada
restu orangtuaku dan membuatku kami bahagia selamanya.
Tamat
Cerpen Karangan: Aristia Paramitha
Facebook: Aristia Paramitha Aziz






0 comments:
Post a Comment