Container Icon

Cacat Hati


Hari itu, senja mulai mendatangiku, adzan sudah di pangkal tenggorokan. Dan hatiku merintih kesakitan. Air mata mengalir membasahi pipiku yang melekat di atas bantal. Air itu menggenang kemudian meresap dalam pori-pori bantal. Isak tangisku tidak terhenti meski waktu sudah semakin berlalu. Namun tak kuperdengarkan suara tangisku.

Aku Santi, anak kedua dari 2 bersaudara. Aku mempunyai kakak perempuan. Ibuku sangat menyayangi kakakku. Aku merasa ibuku pilih kasih. Entah yang kurasakan benar atau tidak. Semua yang kakak inginkan diberikan. Bahkan yang berat sekalipun. Sedangkan aku hal yang ringan saja tidak dikabulkan. Aku tidak melakukan kesalahan pun selalu dituduh dan dimarahi.

Beberapa hari ini ibuku sibuk merenovasi rumah untuk tahun baru. Nah, ibuku baru selesai memasang keramik lantai dan dinding. “Kok ada keramik yang retak, siapa yang baru lewat sini tadi!” kata ibu. “Aku.” kataku. “Kamu ya, yang meretakkan keramik ini!” dengan nada keras dan melotot “Nggak, aku memang lewat tapi aku nggak sampai meretakkan keramik.” nada pelan. Ku katakan “Kakak mungkin yang meretakkan.” “Jangan menuduh kakakmu! Kalau salah ngaku saja” bentak ibu.
Sudah kesekian kali aku dimarahi dan disalahkan sebab hal yang tidak kulakukan. Aku benar-benar tidak bisa menahan amarah. Kuteriakkan “Tidak bu! Aku tidak meretakkan!” Aku malah ditampar sangat keras di pipi kiri. Lalu aku lari ke kamar. Merebahkan tubuhku di atas ranjang. Kemudian memiringkan tubuhku ke kanan. Dan aku menangis tanpa bersuara.

“Aku yang meretakkan keramik bu. Aku tidak sengaja menginjak dan meretakkan keramiknya. Maaf bu.” Ucap kakak. “Tidak apa-apa.” Jawab ibu. Aku yang mendengarnya langsung naik darah. Sambil mengepal kedua tanganku “Kok kakak yang melakukan kesalahan nggak dimarahi! Kok aku dimarahi. Nggak adil. Sungguh tidak adil” gumam hatiku. Seketika itu aku langsung membenci mereka berdua.

Langkahku menuju keluar rumah. Sambil memandang langit yang penuh permata dan bulan sabit di tengah langit, aku duduk di bangku depan rumah. Tak sengaja aku mengatakan “Seandainya kakak tidak ada atau aku saja yang tak pernah ada.” Saat itu juga sebuah bintang jatuh melintas. Pemandangan malam yang indah, tak sesuai dengan suasana hatiku.

Esok harinya “Astagfirullah, kakaaak!” teriakku menatap tubuh kakak yang bersimbah darah pada mulutnya tergeletak di lantai kamarnya. Berlari menghampiri kakak, aku menggoyang-goyangkan tubuh yang lemas itu.
Oh tidak, apa ucapanku tadi malam terkabul. Kumohon cabut kembali.

Ibuku langsung datang dengan berlari tanpa ekspresi terkejut, namun raut wajahnya menunjukkan rasa khawatir. Ibu membopong tubuh itu dengan kedua tangannya. Meletakkan tubuh kakak di kursi depan mobil, kemudian ibu mengendarai mobil dengan sangat kencang. Akupun duduk di kursi belakang mobil. Mobil itu melaju begitu cepat dan berhenti di depan rumah sakit. Sambil membopong tubuh kakak dengan kedua tangannya, ibu berlari masuk ke dalam bangunan yang berasitektur eropa itu. Sebuah rumah sakit yang begitu megah dengan fasilitas terlengkap di kota kami. Kakak langsung mendapat pertolongan dari dokter- dokter ahli di sana. Setengah jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi kakak. “ Nyawa putri ibu sudah tidak tertolong lagi, penyakitnya sudah terlalu parah dan sudah mencapai stadium akhir.” dengan nada menyesal ia katakan kalimat itu pada ibuku. Wanita yang saat ini berdiri lunglai. Detik itu juga, hatiku retak seperti keadaan keramik tempo hari.

Sekarang, aku merenungi apa yang aku lakukan selama kakakku masih ada. “Aku selalu menganggap kakak lebih beruntung daripada aku. Kakak anak yang ramah, rajin dan baik meskipun tidak terlalu pintar. Berbeda denganku, aku anak yang cuek dan tidak terlalu rajin, namun aku lebih pintar dari kakakku. Aku selalu mendapat peringkat kelas sedangkan kakak tidak pernah. Mungkin ibu lebih menyukai anak yang rajin dan baik daripada anak yang pintar. “Namun akhir-akhir ini aku menyadari, ibu sayang kedua anaknya. Hanya saja lebih memperhatikan kakak yang dalam keadaan sakit. Kakak menderita kanker otak selama 2 tahun terakhir dan aku tidak tahu.
“Maafkan aku, kakak.”

Aku telah cacat hati, hatiku tidak lagi retak seperti keramik tempo hari. Namun, bahkan sudah hancur berkeping- keeping. Yang kepingannya hilang entah kemana, mungkin tersembunyi di balik rasa dengkiku selama ini. Tahun baru ini, menjadi hari terburukku selama aku menjalani hidup.

Cerpen Karangan: Duwi Sariwulan
Facebook: Duwi Sariwulan
Namaku Duwi Sariwulan. Aku bersekolah di SMA Negeri 3 Jombang
Ini merupakan cerita pendek karangan Duwi Sariwulan, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Duwi Sariwulan untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 26 October, 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

ANDA PENGUNJUNG KE