Container Icon

Rainbow Love in Amsterdam




 “Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.” (an-Nur’: 26)


Gelisah dan gelisah. Itulah yang dirasakan Faiz ketika ada yang melamar Fransisca Helena Van Braun. Sebenarnya orang yang melamar itu tak lain Salman teman sekolah yang juga sudah lama mencintai Fransisca.
“Witing tresno jalaran sekokulino… jatuh cinta karena terbiasa”
Faiz tersenyum getir mendengar pepatah Jawa itu. Memang kenyataanya demikian. Semula ia menganggap hanya lelucon belaka, tapi pada akhirnya dia harus mengakui bahwa ia jatuh cinta pada seorang gadis Belanda yang telah lama menjadi bagian dari keluarganya. Lima belas tahun gadis anggun dan bersahaja itu mengisi keseharianya. Entah dari mana dan kapan perasaan cinta itu ada. Ia berusaha menolak, mengingkari, dan membunuh perasaan itu namun toh ia menyerah. Semakin lama berusaha membunuh perasaan cinta itu, namun perasaan itu makin kuat bersemayam dalam lubuk hatinya.

Faiz bersyukur selepas SMA ia menadapat beasiswa meneruskan kuliah ke Jerman sehingga ia bisa berpisah lama dengan adik angkatnya sendiri. Selama lima tahun belajar di negeri orang ia dituntut untuk bisa fokus pada studinya namun perasaan cinta itu tetap tak mau pergi. Bahkan karena perasaan cintanya yang begitu besar itulah yang memberinya semangat yang luar biasa untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang insyinyur teknik mesin.

Fransisca Helena Van Braun, adik angkatnya adalah putri dari Mr. Robert Van Braun dan Mrs. Helena Van Braun. Di usianya yang ke sebelas tahun Fransisca harus kehilangan kedua orangtuanya yang meninggal akibat kecelakaan tragis. Kedua orangtua gadis itu sudah lama bersahabat karib dengan ayahnya Faiz sejak masih kuliah di Amsterdam University. Sebelum meninggal ibunya Fransisca telah berpesan pada ibunya Faiz untuk menjaga dan mengasuh putri semata wayangnya sampai tiba waktunya berkeluarga dan menginginkan putrinya itu menimba agama Islam di Indonesia karena memang keluarga Van Braun telah lama memeluk Islam. Semenjak itu Fransisca tinggal bersama keluarga Faiz di Jakarta.

Fransisca sebaya dengan adiknya Faiz, Nabila Aulia Putri dan ia sendiri berselisih empat tahun dengan Fransisca. Kedua adiknya itu kini tengah menempuh studi di Amsterdam di tempat yang sama dengan ayah mereka belajar dulu.

“Ehemmm… kamu kangen ya dengan adik-adikmu Faiz?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Faiz yang tengah merenung menatap foto Fransisca yang terpampang di ruang keluarga. Ia jadi salah tingkah, dilihatnya sang bunda tersenyum dan membawakan segelas teh hangat untuknya.
“Iya umi… Faiz kangen banget dengan mereka, sejak mereka ke Amsterdam untuk kuliah suasana rumah ini jadi sepi”. Ucap Faiz seraya tersenyum ke arah ibundanya tercinta.
“Oh ya Faiz… ada yang ingin umi bicarakan sama kamu.”
Faiz mengerutkan dahi dan duduk di sebelah ibunda tercinta. “Sepertinya penting banget umi…?”
“Ini tentang masa depanmu sayang…”
“Faiz siap mendengarkan umi…”
Wanita setengah baya itu tersenyum ke arah putra sulungnya itu,
“Nak… umi rasa kamu sudah waktunya berumah tangga, dan kalau gak keberatan umi sudah memilihkan calon terbaik untukmu.”
Tiada angin tiada hujan. Sebenarnya Faiz kaget mendengar ibundanya menyinggung tentang masa depannya itu tapi ia tahu betul bahwa sang bunda ndak main-main tentang hal itu. Lagipula mana mungkin Faiz berterus terang pada sang bunda soal perasaanya terhadap Fransisca.
“Faiz nurut sama umi… Faiz hanya menginginkan seorang pendamping hidup yang sholihah, yang sayang sama Faiz… sayang sama Abi dan Umi dan sayang sama Nabila. Faiz yakin pilihan umi adalah terbaik untuk Faiz. Kalau boleh tahu siapa dia umi?”
Sang bunda menatap putranya itu dengan terharu sekaligus bangga dikaruniai anak yang baik budi pekertinya dan berbakti sama orangtua. Sejenak ia menghela nafas dan membelai dengan penuh kasih sayang rambut putranya, “Umi dan Abi, kamu dan juga Nabila sudah lama kenal baik dengan gadis itu… Insya Allah dia gadis yang sholihah, gadis yang baik budi pekertinya, lembut tutur bahasanya, penyayang seperti yang kamu harapkan.”
Faiz berdesir. Melihat kesungguhan kata-kata dan tercermin di sorotan bening, teduh mata sang bunda.
“Ka… kalau boleh tahu siapa di.. dia umi?”
Sampai terbata-bata Faiz mengucapkanya karena dadanya bergemuruh antara cemas, sedih namun bahagia. Cemas karena ia berharap nama gadis itulah yang diharapkan keluar dari bibir sang bunda. Sedih andai bukan nama gadis itu yang diinginkan sang bunda tapi ia juga bahagia andai bukan gadis itu yang dipilihkan sang bunda ia yakin Sang bunda telah memilihkan calon pendamping terbaik untuknya.
“Bagaimana kalau seorang gadis yang memiliki ciri-ciri seperti yang umi sebutkan itu ada pada Fransisca Helena Van Braun… maukah kamu menerimanya sebagai calon pendamping hidupmu anakku?”
Antara percaya dan tidak percaya pemuda itu berurai air mata. Dipeluknya sang bunda dan diciumnya tangan sang bunda dengan penuh takzim,
“Allahu akbar… subhanallah umi… dialah gadis yang selama ini Faiz dambakan. Faiz sedih, lama Faiz merasa tersiksa dengan perasaan itu, salahkah kalau Faiz mencintai dia… ? Faiz ndak tahu kapan perasaan itu mulai ada dalam hati Faiz. Faiz bergetar tiap mendengar ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, Faiz kagum dengan budi pekertinya. Hanya dialah nama yang selalu Faiz panjatkan dalam do’a, tapi bagaimana dengan pinangan Salman Umi?”
Seperti faham dengan apa yang diraskan putranya, sang bunda membelai rambut putranya itu kembali.
“Untuk itu kita susul kedua adikmu ke Amsterdam biar Fransisca sendiri yang menentukan malam ini kamu sholatlah istikharah, minta petunjuk dan pertolongan Allah. Insya Allah jodoh seseorang tak akan tertukar. Umi faham betul dengan apa yang kamu dan Fransisca rasakan nak. Abi dan Umi tahu kalian sudah lama saling mencintai. Abi dan Umi jauh-jauh hari sudah menyadari hal itu. Persahabatan abimu dengan ayahnya Fransisca tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Persahabatan yang indah, persahabatan yang mulia karena di dalamnya dilandasi dengan keimanan dan ketakwaan pada Allah dan Rasulnya. Sebelum bundanya Fransisca meninggal kami pernah berharap semoga kelak kamu dan Fransisca bisa menjadi sepasang suami istri membina keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah…”

Amsterdam, 21 Januari 2011.
Fransisca termangu di sudut kamar tidurnya. Dari balik jendela ia menerawang jauh ke arah cakrawala senja yang tengah diguyur gerimis. Pikiranya tertuju pada seorang pemuda yang telah lama dicintainya. Namun ia juga sedih memikirkan telpon dari Ibunda angkatnya dari Jakarta dua hari yang lalu yang mengabarkan tentang lamaran dari teman sekolahnya Salman.

Perlahan bulir-bulir air mata mulai membasahi kedua pipinya jika ia teringat kedua orangtuanya yang telah lama tiada. Sejak kecelakaan maut yang merenggut kedua orangtua yang sangat disayanginya ia hidup sebatang kara. Meskipun ia kemudian diasuh oleh keluarga pak Muhammad Abdullah sahabat karib ayahnya sejak masih kuliah.
Dan dari sana lah ia memperoleh pengganti keluarga yang juga sangat menyayanginya. Abi, Umi, Faizal dan Nabila sangat menyayanginya meskipun status di keluarga itu hanya sebatas anak asuh. Dan ia pun sangat menyayangi mereka.

Seiring berjalanya waktu disaat gelar sarjana kedokteran hampir diraihnya, disaat usianya yang telah menginjak dewasa maka tak heran kalau dalam diri Fransisca semakin timbul keinginan untuk berumah tangga. Ia mendambakan seorang pendamping hidup yang nantinya bisa menjadi imam dan nahkoda dalam bahtera rumah tangga. Dan sosok pendamping hidup yang didambakanya memang ada pada diri kakak angkatnya yang lama ia telah jatuh cinta padanya.

“Mbak Sisca… ni teh hangatnya. Masya Allah kenapa mbak menangis…?”
Fransisca menghambur memeluk Nabila Aulia Putri adik angkatnya dan menumpahkan tangisnya. Heran campur sedih Nabila kembali mengulangi pertanyaanya, “Ada apa mbak…? Ceritakan pada Nabila jika mbak lagi ada masalah.”
Fransisca melepaskan pelukanya, “Mbak merasa dah gak sanggup lagi menahan beban ini, mbak tahu mungkin adik akan membenci mbak…”
Tentu saja Nabila tambah kebingungan.
“Ceritakanlah mbak… mana mungkin Nabila akan membenci mbak.”
Seperti menemukan kekuatan, setelah agak reda tangisnya Fransisca mulai menceritakan derita yang sekian tahun mendera hatinya. Sepatah dua patah kata akhirnya mengalirdengan pelan dari bibir Fransisca.
“Mbak bingung apakah harus menerima cintanya Salman sedangkan perasaaan mbak sudah lama tertambat pada seseorang, dan mbak tak bisa berpaling ke lain hati lagi.”
Dengan penuh perhatian Nabila mendengarkan dengan seksama curahan hati kakak angkatnya itu.
“Em… kalau boleh tahu siapakah lelaki beruntung yang sudah berhasil mendapatkan cinta dari gadis baik, sholihah, dan cantik seperti mbak Sisca ini?”
Karena pertanyaan itulah yang membuat Fransisca mendadak sedih dan seolah memikul beban teramat berat di pundaknya. Ia merasa malu untuk menjawabnya pada adik angkatnya bahwa ia mencintai kakak angkatnya sendiri. Akankah ia pantas mencintai dan berharap untuk bisa hidup bersama dengan kakak angkatnya?
Gadis berkulit putih bersih itu hanya mampu menerawang ke arah cakrawala kota Amsterdam yang baru saja diguyur hujan. Ia baru saja tersadar dari lamunanya ketika Nabila menguncang tubuhnya.
“Kok malah diem mbak? Siapa sih lelaki yang beruntung itu? Katakanlah mbak Sisca sayang…”
Fransisca menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya yang sembab dan memerah. Keraguan di hatinya pupus ketika melihat senyum adiknya yang meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sejenak ia menghela nafas dan dikumpulkannya seluruh keberanianya.
Ia tidak punya pilihan karena Salman menunggu jawaban atas khitbah yang dilayangkan padanya atau seumur hidup ia harus memendam perasaan cinta itu selamanya.
“Dia… Muhammad Faizal Abdullah dik.”
Sebuah senyum tersungging di bibir Nabila mendengar pengakuan kakak angkatnya itu. Akhirnya kini ia tahu kalau kakak angkatnya itu telah lama mencintai kakak kandungnya sendiri, Muhammad Faizal Abdullah. Nabila memegang kedua bahu Fransisca yang kembali bergetar menahan tangis. Kedua gadis itu kembali berpelukan sejenak. Nabila sendiri terenyuh dan ia bisa merasakan bagaimana begitu besarnya konflik batin yang dialami kakak angkatnya itu.
“Nabila kadang sadar akan hal itu, dan sering loh Nabila bisa menangkap sinyal-sinyal cinta di antara mbak dan kak Faiz… Percayalah sama Allah mbak, jika Dia menakdirkan Kak Faiz sebagai jodoh mbak… mudah bagi-Nya untuk menyatukan mbak dan kak Faiz.”
Fransisca memerah wajahnya mendengar guyonan adik angkatnya, namun ia tersenyum mendengar ungkapan adik angkatnya itu yang serasa bak embun penyejuk.
“Ah adik ni bisa saja… makasih dik karena udah ngertiin perasaan mbak, jadi adik ndak benci sama mbak?”
Seketika Nabila tertawa kecil,
“Masya Alla mbak… subhanallah, kenapa Nabila harus benci? Mbak dan Kak Faiz kan gak ada hubungan darah, bukan mahram pula… seandainya mbak dan kak Faiz melangsungkan pernikahan pun dalam Islam diperbolehkan. Mbak jangan nangis lagi ya?”
Nabila tersenyum melihat kakak angkatnya itu tersipu malu.
“I..iya sih, tapi bagaimana ya dengan Kak Faiz? Apa mungkin ia mau menerima gadis seperti aku ini?”
Belum juga gadis itu menyelesaikan ucapannya ia telah dikejutkan dengan suara yang tak lagi asing baginya,
“Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamnya, aku akan menerima dengan tulus dan ikhlas calon pendamping hidup yang telah dipilihkan umi untukku.”
“Masya Allah Kak Faiz… abi… umi, kapan datang? Kok gak ngasih kabar dulu?”


Senja itu telah memerah di ujung cakrawala. Menyulap suasana kota Amsterdam sehingga kian elok dan memukau. Pipi gadis itu semerah senja di atas sana, ia nampak anggun dengan balutan gaun pengantin yang putih seputih salju. Di sampingnya duduk seorang pemuda gagah yang menjabat tangan seorang penghulu yang menikahkan dua insan yang lama memendam cinta itu.
“Ja… jadi?”
Faiz tersenyum dan meraih erat tangan gadis yang kini menjadi istrinya itu,
“Nyatanya engkaulah sayang yang dipilihkan umi untuk mendampingi hidupku. Perempuan yang jahat untuk lelaki yang jahat dan lelaki yang jahat untuk perempuan yang jahat, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik.”
Tiada lagi mampu berkata-kata gadis itu selain ia hanya bisa menjatuhkan pelukan ke dalam lelaki yang akan menjadi imam dan nahkoda dalam rumah tangga yang akan mereka bina.
Fransisca terisak, haru dan bahagia. Alangkah indahnya Amsterdam sebagai kota kelahiran Fransisca kini bertaburan dengan pelangi-pelangi cinta di langit senja.

TAMAT

Cerpen Karangan: Maz Puji
Blog: http://mazfoojie.mywapblog.com
menjadi insan yang bertakwa dan bermanfaat untuk sesama.
Ini merupakan cerita pendek karangan Maz Puji, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Maz Puji untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

ANDA PENGUNJUNG KE