Sahabat selalu ada disaat kita
membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum
disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya
menangis. Kita tak pernah tau kapan dan melalui peristiwa apa kita bisa
menemukan seorang sahabat. Mungkin ada persahabatan yang berawal dari
perkelahian.
Kring… kring… kring, si penunjuk waktu kembali membangunkanku. Aku pun bergegas untuk bangun, merapikan tempat tidur dan mandi.
“I
feel good…!” aku bernyanyi nyaring di dalam kamar mandi. Untuk
memuaskan keinginanku yang tak kesampaian menjadi seorang penyanyi
terkenal.
Setelah selesai
mandi, aku memakai seragam dengan rapi dan menyisir rambut. Saat sedang
asik menyisir rambut, tiba-tiba terdengar suatu suara dari arah dapur.
“Jangan
berlama-lama sisirannya! Ayo cepat kamu sarapan!” Ternyata itu adalah
suara makhluk yang paling cerewet di bumi ini, namun ia sangat
kusayangi. Itulah mamaku. Tak terbayang olehku saat dalam kandungan, ia
selalu membawaku kemana-mana, tak pernah aku ditinggalkannya.
Tiba di dapur, ku lihat makanan favoritku terhidang di meja makan, yaitu gulai ayam.
“Nyam-nyam,
enak banget gulai ayamnya ma. Jika ada kontes masak-memasak gulai, mama
pasti menang.” pujiku kepada mama sambil melahap makananku.
“Hahahaha… bisa saja kamu ini.” Jawab mama sambil tersenyum simpul kepadaku.
Waktu
telah menunjukkan pukul 06.30 Wib, saatnya untuk berangkat ke sekolah.
Tak lupa aku membawa topi upacara dan memasukkannya ke dalam tas, karena
saat ini adalah hari senin. Namun baru saja mau melangkah keluar rumah,
ada suara itu lagi terdengar (suara mama).
“Eits..! jangan langsung pergi, pamitan dulu pada mama.” ucap mama dengan tegas ambil menjulurkan tangan kanannya.
“Oh iya, aku lupa.” aku pun menyalam tangan mama dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
“Hati-hati di jalan ya, nak.” seru mama dari depan pintu rumah.
“Iya ma.” jawabku
Kutelusuri
jalan dengan seorang diri. Sambil berjalan aku bernyanyi dengan sendu
(dengan sedikit mengubah kata-kata dari lagu itu, agar nyanyian itu sama
seperti pengalamanku). “Makan-makan sendiri, cuci piring sendiri, ke
sekolah jalan sendiri, pulangnya juga sendiri”
Setelah lama berjalan, akhirnya aku sampai di sekolah.
“Huh…
capek.” Kutarik nafas panjang sambil menghempaskan badan ke bangku.
Saat lagi enak duduk di dalam kelas sambil mengobrol dengan teman-taman,
tiba-tiba… “Teng… teng… teng” terdengar bunyi bel masuk.
“Huh…
bunyi itu kembali terdengar” ujarku dalam hati sambil mengerutkan dahi.
Lalu kuambil topi upacara dari dalam tas dan segera mengenakannya.
Saat
di lapangan upacara aku berbaris di sebelah kanan Nia dan di belakang
Sofi. Upacara pun berjalan dengan hikmat, namun saat dipertengahan, aku
mencium bau busuk dari arah depanku. Karena yang berbaris di depanku
Sofi, maka aku mengira bahwa dialah yang berbau busuk. Tanpa pikir
panjang, aku langsung menyindirnya dengan pedas.
“Teman-teman,
sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pernafasanku. Seperti bau busuk
makanan basi, sumbernya berasal tepat dari arah depanku. Mungkin ada
seseorang yang tidak mandi dan tidak menyuci bajunya. Sehingga bau busuk
dari badannya itu menyebar ke seluruh penjuru bumi.” Sindirku pedas.
Mendengar sindiranku, Sofi pun menoleh ke belakang.
“Hei!
tutup mulutmu itu ya, setiap ke sekolah aku selalu mandi dan memakai
seragam yang sudah dicuci bersih. Jadi jangan sembarangan menuduh dong!”
tutur Sofi dengan wajah yang merah seperti tomat.
“Memang kenyataannya kok, buktinya bajumu bau busuk.” balasku dengan sedikit menaikkan alis sebelah kiri.
“Pokoknya
bau busuk itu bukan berasal dari bajuku.” ujar Sofi yang sepertinya mau
menjatuhkan butiran-butiran kristal itu dari matanya.
“Ha… ha… ha, mana mungkin kamu mau mengaku.” ucapku dengan nada yang agak sedikit mengejek.
“Terserah
kamu deh, mau percaya padaku atau tidak. Dasar nenek sihir!” kata Sofi
sembari mengusap butiran-butiran kristal yang tak terasa telah membasahi
pipinya.
Karena kejadian itu, aku dan Sofi pun bertengkar.
“Teng… teng… teng…” bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Aku pun segera pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
Sesampai di rumah, kuganti baju lalu makan siang dan tidur.
T
ak terasa hari sudah menunjukkan sore. Aku pun segera mandi.
“Aku
jahat sekali ya, sudah menuduh Sofi sembarangan, padahalkan belum ada
buktinya.” kataku dalam hati sambil menyadari semua kesalahanku.
Hari
telah menunjukkan pukul 19.00 Wib, waktunya untuk belajar. Aku bergegas
ke kamar dan menyusun jadwal pelajaran untuk esok hari. Saat baru
membuka tasku, tercium bau yang tak sedap.
“Seperti bau busuk yang di sekolah tadi.” ungkapku dalam hati.
Aku
mulai penasaran asal bau busuk itu. Setelah mengeluarkan seluruh isi
tas, aku pun menemukan asal bau busuk itu. Ternyata bau busuk itu
berasal dari topiku yang terkena bakwan basi pada minggu lalu. Aku pun
terdiam dan mulai berpikir, ternyata aku telah salah menuduh Sofi,
rupanya bau busuk itu berasal dari topiku.
Esok
harinya aku berangkat ke sekolah. Di sekolah aku melihat Sofi sedang
menyapu kelas. Kulemparkan senyuman padanya, namun ia malah membuang
muka. Ternyata dia masih marah padaku. Aku berusaha untuk meminta maaf
padanya dengan cara mendekatinya, namun ia selalu saja pergi saat aku
menghampirinya.
Sudah 5 hari
aku berusaha untuk meminta maaf padanya, namun tak pernah berhasil. Hari
demi hari kulalui dengan rasa bersalah yang amat dalam. Akhirnya ku
temukan ide untuk meminta maaf padanya, yaitu dengan memberinya sepucuk
surat dan coklat.
Selang
sehari, akhirnya suratku dibalas oleh Sofi. Ia menerima permintaan
maafku dengan syarat apabila aku tidak mengulangi kesalahan itu lagi,
dan akhirnya kami pun kembali berteman dan malahan semakin akrab saja.
Keesokan harinya aku mengajak Sofi untuk bermain di taman sambil menikmati indahnya sinar keemasan si kulit bundar.
“Fi, lihat deh indah banget ya sinar matahari itu. Aku sangat terpesona padanya.” ucapku
“Iya nih, aku juga sangat senang melihat sinar matahari pada sore hari.” jawab Sofi
“Lihat
deh, disana ada pohon besar yang sangat indah. Ayo kita ukir nama kita
pada batang pohon itu, agar persahabatan kita tidak pernah pudar dan
tetap abadi.” kataku sambil mengambil 2 buah paku yang berada di dekat
kami untuk mengukir batang pohon itu.
“Ide kamu bagus juga.” jawab Sofi setuju.
Nama kami pun terukir indah di batang pohon itu.
Selesai
mengukir, kami berjalan-jalan di dekat sebuah kolam yang agak dalam.
Entah mengapa, tiba-tiba Sofi terperosok masuk ke dalam kolam itu.
“Tolong-tolong
aku tenggelam.” teriak Sofi keras sambil berusaha menjaga kepalanya
agar tetap berada di atas permukaan air. Kemudian tanpa pikir panjang
aku langsung masuk ke dalam kolam itu dan berusaha menolong Sofi.
Kudorong badannya dengan sekuat tenaga agar ia bisa keluar dari kolam
itu, namun tak kusadari perlahan-lahan tubuhku terdorong masuk ke dalam
lumpur yang lengket. Akhirnya Sofi bisa keluar dari kolam itu, namun
malah aku yang tak bisa menyelamatkan diri, karena tubuhku telah
terdorong masuk ke dalam lumpur.
Karena
melihat keadaanku yang sudah lemas dan hampir tenggelam, maka Sofi
memanggil orangtuanya, karena kebetulan rumahnya sangat dekat dari
taman. Namun saat Sofi dan orangtuanya tiba, kepalaku sudah tak
kelihatan lagi di atas permukaan air. Aku sudah tenggelam karena
terjebak di lumpur yang dalam. Kemudian dengan sigap ayah Sofi mencariku
di dalam kolam. Akhirnya aku ketemu dan langsung dilarikan ke rumah
sakit terdekat.
Setelah sadar,
kulihat papa, mama, Shofi, om Dahlan (papa Shofi), dan tante Nuri (mama
Shofi) berdiri memperhatikanku yang berbaring diatas tempat tidur.
Setelah melihatku sudah sadar, Sofi pun langsung berbicara kepadaku.
“Makasih ya atas pertolonganmu tadi” ungkap Sofi sambil mengusap air mata yang telah membasahi pipinya yang imut itu.
“Iya sama-sama.” jawabku sambil tersenyum simpul kepadanya.
“Aku
mau bertanya satu hal padamu. Mengapa sih kamu tadi rela mengorbankan
nyawamu demi aku?” tanya Sofi penasaran. Kemudian aku pun menjawab
pertanyaan Sofi dengan satu kalimat.
“Karena kita sahabat” jawabku sambil tersenyum. Kemudian kami berdua pun saling berpelukan dan meneteskan air mata haru
sumber : http://cerita.blogbintang.com






0 comments:
Post a Comment