“Assalamualaikum Bang Doni! Ini Maul, bang!”
Maulana
berteriak memanggil Bang Doni, pemilik counter pulsa yang berada di
depan Rumah Sakit Harapan Indah. Counter pulsa itu buka 24 jam dan di
pagi buta Maulana sudah datang membawakan kue-kue buatan ibunya untuk
dijual di sana. Hal itu memang merupakan kegiatannya setiap hari. Karena
ia hanya hidup dengan ibunya semenjak ditinggal sang ayah untuk
selama-lamanya.
“Wa’alaikum salam, iya sebentar”, Bang Doni yang masih memakai sarung menghampiri Maulana yang sudah 5 menit menunggu di depan.
“Yah
bagaimana sih bang, tokonya nggak dijaga begini”, kata Maulana
berbasa-basi, sambil meletakkan keranjang berisi kue-kue di atas meja
panjang yang terbuat dari kaca itu.
“Abang tadi baru selesai sholat subuh, maaf ya kalau lama”, kata Bang Doni sambil memindahkan keranjang kue tersebut.
“Saya nitip kuenya ya, bang”, kata Maulana sebelum pergi.
“Sip,
belajar yang benar ya!”, Bang Doni menepuk kepala Maulana dengan lembut
sebelum anak itu melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Maulana
melangkahkan kakinya yang hanya dibalut dengan sepatu yang sudah
ditambal berkali-kali. Kaus kakinya pun sudah mulai kendor dan berwarna
kekuningan. Ia memang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun ia
tetap bersemangat pergi ke sekolah pagi itu.
Begitu
sampai di kelas, ia melihat beberapa teman sekelasnya berkumpul di
tempat duduknya dengan Sabam. Ia berjalan mwnuju tempat duduknya itu.
“Wah keren, Sabam sudah punya handphone! Ah nanti aku minta ke mama ah!”, seru salah seorang murid yang meninggalkan tempat itu.
Sabam melihat wajah Maulana di antara wajah teman-temannya yang mengerubunginya itu.
“Mauul!! Eh minggir, sobatku sudah datang!”, Sabam segera berdiri dan menyapa sahabatnya itu.
Seketika
anak-anak yang tadi berkumpul di tempat mereka langsung pergi. Maulana
menaruh tasnya di atas kursi. Teman sekolahnya memang kebanyakan anak
orang kaya. Namun tidak cukup baik untuk mau berteman dengan anak orang
miskin. Berbeda dengan Sabam yang menerima Maulana apa adanya sebagai
temannya
“Katanya kamu baru dibelikan handphone baru ya, Bam?” tanya Maulana.
“Ah handphone jelek saja kok!”, kata Sabam merendah.
Sabam
segera memasukkan ponsel barunya itu ke dalam tas ketika temannya
selesai meminjam benda tersebut. Ia memang tidak suka pamer, apa lagi di
depan Maulana. Kehebohan tadi pun terjadi hanya karena ada salah
seorang murid iseng yang tak sengaja melihat Sabam menelepon dengan
handphone barunya itu lalu ia memberi tahu murid-murid yang lain
mengenai handphone baru itu. Untuk ukuran murid kelas 4 SD seperti
mereka saat itu, mempunyai ponsel merupakan hal yang sangat hebat.
Maulana
membayangkan andaikan dirinya bisa seperti Sabam. Andai saja ia
terlahir di keluarga kaya. Ia pun tidak perlu menjual kue dan
repot-repot menjualnya. Belum lagi sekarang ibunya sedang sakit-sakitan.
Sejujurnya ia merasa miris melihat keadaan ibunya di rumah, Sudah
beberapa hari pula ia tidak menggunakan uang sakunya untuk makan di
sekolah agar bisa menabung untuk membeli obat untuk ibunya.
Waktu
itu, sempat sekali ibunya pergi ke dokter. Namun ternyata tagihannya
sangatlah mahal. Terpaksa uang mereka untuk makan sebulan habis begitu
saja. Sejak itu, ibunya tidak mau lagi pergi ke dokter. Maulana tidak
pernah menceritakan masalah itu pada siapapun, termasuk Sabam sahabat
baiknya. Ia tahu bahwa ibu Sabam adalah seorang dokter namun ia cukup
tahu diri untuk tidak meminta apapun darinya. Ia selalu mengingat
perkataan ayahnya, “Biarpun kita miskin, kita tidak boleh meminta-minta
pada orang lain”
Sore harinya, Maulana kembali mendatangi counter pulsa Bang Doni. Ia ingin mengambil keranjang kue yang dititipkan tadi pagi.
“Ini
Ul, uangnya. Hari ini kue nya habis loh!”, kata Bang Doni sambil
menghitung uang yang terkumpul lalu memberikannya pada Maulana.
“Terima
kasih”, Maul kembali menghitung uang yang diberikan. Mengalikan
harganya dengan jumlah kue yang ada lalu membagi dua puluh persennya
untuk Bang Doni.
“Bang ini kelebihan kayaknya”, ujar Maulana.
“Hari ini abang nggak ambil untung. Buat kamu saja”, jawab Bang Doni sambil menaikkan kedua alisnya dan tersenyum.
“Terima kasih banyak, bang!”, Maulana tersenyum senang lalu mengamankan uang tersebut di dalam tasnya.
“Bang aku boleh duduk di sini sebentar, kan? Capek banget”, kata Maulana sambil merenggangkan kakinya.
“Iya, silakan”
Maulana
duduk menghadap jalan raya. Di hadapannya berdiri sebuah rumah sakit.
Mobil-mobil mewah keluar masuk rumah sakit tersebut. Maulana menundukkan
wajahnya, ia berpikir mengapa dunia begitu tak adil, mengapa jaminan
kesehatan hanya dimiliki orang-orang berkantung tebal saja.
Ia
segera sadar dari lamunannya saat seseorang memberhentikan motornya di
depan counter pulsa itu. Orang itu memakai jas motor dan bertubuh tinggi
besar. Ia melepas helmnya lalu duduk di atas salah satu kursi di
sebelah Maulana.
“Ada yang bisa dibantu, pak?”, tanya Bang Doni.
“Saya
mau jual handphone”, kata orang itu sambil meletakkan handphone nya di
atas meja kaca itu. Bang Doni mengambilnya dan memerhatikan keadaan
fisik benda tersebut. Sementara itu Maulana hanya mendengarkan
percakapan tersebut walau sebenarnya ia tidak mengerti apa yang
dibicarakan. Hingga akhirnya handphone milik bapak-bapak itu Bang Doni
masukkan ke dalam meja kaca. Bapak-bapak itu pun mendapatkan sejumlah
uang lalu kembali pergi dengan motornya. Uang yang didapat juga cukup
banyak.
“Kok abang ngasih uangnya banyak banget?”, tanya Maulana.
“Tadi handphonenya masih bagus, keluaran terbaru pula. Makannya harganya masih mahal juga”, jelas Bang Doni.
“Oh begitu ya, bang”, Maulana mengangguk.
Akhirnya
ia pun memutuskan pulang dan meninggalkan counter pulsa itu. Dalam
perjalanan, ia memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba ia teringat akan
handphone baru milik Sabam.
“Kalau handphonenya masih baru dan bagus, harganya mahal pula”, kata Maulana dalam hati.
Tiba-tiba ia menghentikkan langkah kakinya.
“Astagfirullah,
Maul.. Aku mikir apa sih? Nggak mungkin kan aku menjual handphone
Sabam! Itu sama saja dengan mencuri!”, Maulana menepuk dahinya.
Ia beristigfar berkali-kali untuk membuang pikiran negatifnya tersebut jauh-jauh.
Hari-hari
pun berlalu, kini Maulana harus berjuang lebih keras lagi mengingat
penyakit ibunya yang semakin parah. Mau tidak mau Maulana belajar cara
membuat kue sendiri. Paling tidak pekerjaan ibunya semakin ringan dengan
bantuannya. Kalau tidak bekerja sama sekali, akan makan apa ia dan
ibunya?
Tetapi tidak pernah
sekalipun Maulana menunjukkan wajah lelah dan kesal di depan ibunya.
Pagi itu, Maulana sarapan bersama ibunya di kamar.
“Sudahlah,
Ul, tidak perlu bantu ibu buat kue lagi. Nanti kamu capek. Lebih baik
kamu banyak belajar supaya nanti dewasa bisa jadi orang kaya. Tidak
seperti orangtuamu”, kata wanita berwajah pucat itu.
“Ibu
kan sakit, Maul nggak bisa bantu banyak buat ibu berobat. Makanya Maul
mau membantu ibu apa saja. Lagipula Maul senang kok sekarang bisa masak
kue!”, kata Maulana sambil tertawa.
Ibunya
hanya bisa tersenyum. Ia merasa seperti wanita paling beruntung di
dunia bisa memiliki anak sebaik Maulana. Memang ia tidak bisa memberikan
banyak hal materil pada anaknya itu, tetapi doanya sebagai seorang ibu
tidak pernah berhenti dicurahkan. Harapannya satu, ingin melihat Maulana
hidup bahagia di masa depannya nanti.
Hari
itu, Maulana pulang paling terakhir. Ia dihukum membersihkan kelas
karena lupa mengerjakan PR. Akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk
dengan pekerjaan barunya sebagai “tukang kue”. Sabam tidak bisa
menemaninya karena harus pergi les.
“Loh ini kan..”, Maulana melihat sebuah handphone tertinggal di dalam kolong meja mereka.
“Handphone nya Sabam ketinggalan!”, Maulana berseru sambil memerhatikan handphone tersebut yang memang kepunyaan Sabam.
Yang
Maulana pikirkan saat itu adalah segera mengembalikannya. Namun rumah
Sabam jauh sekali dari sekolahnya. Tidak mungkin ia pergi ke sana
sendirian tanpa ongkos naik bis. Ia pun memutuskan membawa pulang
handphone tersebut terlebih dahulu.
Maulana
kembali mendatangi counter pulsa Bang Doni untuk mengambil hasil jualan
kuenya. Hari itu keuntungan yang didapat tidak begitu besar. Ketika
uangnya sudah diberikan, Maulana masih belum meninggalkan tempat
tersebut.
“Bang Doni”, panggil Maulana.
“Iya, Ul?”,sahut Bang Doni.
Maulana
menengok ke arah kanan dan kirinya. Tiba-tiba ada rasa penasaran di
dalam hatinya untuk mengetahui berapa harga handphone milik Sabam yang
ia bawa.
“Bang, kalau handphone
seperti ini dijual jadi berapa?”, tanya Maulana sambil mengeluarkan
handphone tersebut dari kantung celananya.
“Wah, sejak kapan kamu punya handphone, Ul?”, Bang Doni menerima handphone tersebut dan memerhatikan handphone tersebut.
“Bu-bukan handphone aku itu! Punya temanku ketinggalan di sekolah tadi”
“Oh begitu. Kalau ini dijual harganya bisa sekitar lima ratus ribu”, kata Bang Doni lalu mengembalikan handphone tersebut.
“Lima
ratus ribu?”, ulang Maul. Tidak pernah Ia memegang uang sebanyak itu
seumur hidupnya. Ia teringat akan ibunya di rumah. Lima ratus ribu sudah
pasti cukup untuk biaya berobat ibunya.
“Iya, lima ratus ribu”, Bang Doni mengiyakan.
“Ya sudah aku cuma tanya aja kok bang. A-aku duluan ya, permisi”, Maulana segera membawa keranjang kuenya dan pulang ke rumah.
Malam
itu Maulana habiskan dengan mengerjakan tugas-tugasnya. Sesekali
matanya melirik pada sebuah ponsel yang ia letakkan di atas tempat
tidurnya. Seketika melihat ponsel itu, yang ia ingat adalah uang sebesar
lima ratus ribu yang bisa ia dapat dengan mudah.
“Kalau
dipikir-pikir, Sabam kan orang kaya. Pasti ia bisa beli lagi handphone
seperti itu, bahkan yang lebih bagus dari itu”, gumam Maulana.
Tiba-tiba handphone itu berbunyi dan mengagetkan Maulana. Ia segera melihat siapa peneleponnya.
“Mama?
Eh jangan-jangan ini mamanya Sabam yang telepon!”, Maulana mulai panik,
ia menutupi ponsel itu dengan bantal agar suaranya tidak berisik.
Lama-lama
suara itu tak terdengar lagi dan Maulana kembali mengerjakan tugasnya.
Entah apa yang ada dalam pikirannya malam itu sehingga ia memutuskan
untuk menjual handphone itu esok hari. Toh Sabam tidak tahu kalau
handphone itu ada pada dia.
“Dasar maling! Aku nggak nyangka kamu setega itu, Ul!”, bentak Sabam penuh amarah.
“Tu-tunggu Bam!”, Maulana berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
Teman-teman sekelasnya mencibir dan menjauhi dirinya.
“Makanya aku nggak pernah mau berteman dengan orang miskin. Orang miskin itu pasti maling!”
“Eh Maul, kalau miskin mendingan nggak usah sekolah di sini saja! Sana kerja saja jadi kuli bangunan hahahahaha!”
Maulana
menutup telinganya. Ia tidak kuat mendengar cemooh dan hinaan yang
memang pantas ditujukan padanya. Ia pun berlari keluar kelas. Semua
orang di sekolah yang melihatnya menatapnya dengan tatapan aneh dan
penuh kebencian. Air mata mulai membasahi pipinya saat ia berlari keluar
dari gerbang sekolah. Yang ia tahu, ia hanya berlari dan berlari hingga
ia sampai di depan rumahnya yang pintunya terbuka. Ibunya masih
sakit-sakitan padahal sudah dibelikan obat, namun tidak setetes pun obat
itu yang ibunya sudi minum. Maulana merasakan sakit yang teramat sangat
di hatinya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat seseorang yang sudah
lama tak ia lihat. Tanpa ia sadari, air matanya terus berjatuhan.
“Bapak!”, Maulana berlari ingin memeluk bapaknya itu.
“Pak,
Maul takut, pak. Semua orang benci Maul”, Maulana menangis di dalam
pelukan ayahnya. Ayahnya tidak menjawab apa-apa namun ia mengelus kepala
anaknya itu.
“Maul.. kamu lupa ya pesan bapak?”
“Pesan?”
“Biarpun
kita miskin, kita tidak boleh berbohong. Biarpun kita miskin, kita
tidak boleh meminta-minta. Biarpun kita miskin, kita juga tidak boleh
mencuri”, kata ayahnya dengan lembut.
Hatinya bergetar hebat ketika mendengar perkataan itu hingga air matanya tak terbendung lagi.
Maulana
terbangun dari mimpi anehnya malam itu. Pakaiannya basah dengan
keringat. Nafasnya pun terengah-engah. Ia melihat handphone milik Sabam
masih ada di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Tak sadar, air
matanya pun menetes. Ia menyesal pernah berniat menjual benda yang bukan
miliknya itu. Segala kejadian buruk di dalam mimpinya itu membuat dia
amat ketakutan hingga ia terbangun dari mimpinya. Ia pun kembali sadar
bahwa ia tidak dapat lagi memeluk ayahnya seperti di mimpinya itu.
Maulana melihat jam yang masih berdetak di dinding kamarnya. Waktu
menunjukkan pukul 12 tengah malam. Hatinya merasa terpanggil untuk
segera meminta ampun kepada Allah. Dengan wajah yang masih basah dengan
air mata, Maulana pergi mengambil wudhu dan melakukan sholat malam di
kamarnya.
Maulana sengaja
datang lebih awal ke sekolah pagi itu. Tepat seperti dugaannya, Sabam
sudah datang terlebih dahulu. Wajah temannya itu terlihat kusut dan
Maulana tahu penyebabnya.
“Ul, handphone ku hilang waktu pulang sekolah. Kamu lihat gak, Ul?”, tanya Sabam dengan wajah melas.
“Oh
itu. Kemarin aku menemukannya di kolong meja kita. Karena takut hilang,
aku bawa pulang. Ini kok aku bawa!”, jawab Maulana segera membuka tas
sekolahnya.
Wajah Sabam berubah
menjadi cerah kembali. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat
melihat handphone yang ia cari itu masih ada.
“Syukurlah
ternyata ada sama kamu ya Ul. Terima kasih banyak! Kalau nggak ada kamu
pasti handphone ku sudah hilang!”, Sabam menjabat tangan Maulana
berkali-kali dan mengguncang bahu temannya itu.
Hati
Maulana serasa penuh ketenangan. Ia tersenyum dan menjawab singkat
ucapan terima kasih dari temannya itu. Ia menaruh tasnya di kursi
sebelah Sabam.
“Maulana, kamu kenapa? Kayaknya kamu lagi ada masalah ya?”, tanya Sabam tiba-tiba.
Maulana tertegun.
“Akhir-akhir
ini kamu jadi sering dimarahin guru dan nggak konsen kalau di kelas.
Memangnya ada masalah apa sih, Ul? Ayo cerita aja, kita kan teman!”,
Sabam menepuk pundak Maulana seolah semakin memaksanya untuk bercerita.
“Sebenarnya
aku sedang bingung. Ibuku sedang sakit dan kami tidak punya uang. Aku
tidak tega melihat ibuku seperti itu”, Maulana akhirnya mau bercerita
untuk pertama kalinya.
Sabam terdiam dan memilih lanjut mendengarkan cerita Maulana hingga selesai.
“Kalau
begitu nanti malam aku dan mamaku akan ke rumah kamu. Ibu ku kan
dokter. Siapa tau bisa membantu”, kata Sabam sambil tersenyum.
“Ta-tapi”, Maulana seolah tidak percaya dengan perkataan temannya itu.
“Sudah, nggak usah sungkan! Ini sebagai balas budiku karena kamu sudah mengembalikan handphone-ku!”, kata Sabam.
Tak
pernah Maulana sebahagia itu dalam hidupnya. Di malam hari, Sabam
beserta orangtuanya benar-benar datang ke rumah Maulana. Akhirnya ibunya
pun dapat berkonsultasi langsung dengan dokter dan mendapatkan obat
agar bisa lekas sembuh. Maulana amat bersyukur telah membatalkan niat
buruknya waktu itu. Ternyata kejujuran tidak akan pernah membawa
kehancuran. Justru kebohongan lah yang akan menjerumuskan diri ke dalam
kesengsaraan. Sejak itu, Maulana dan Sabam pun menjadi sahabat karib.
sumber :http://cerita.blogbintang.com






0 comments:
Post a Comment