Container Icon

ULANG TAHUN UNTUK BUNDA

Oleh NN

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita lupa
bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa kita hanya manusia
yang tak punya apa-apa
selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu
terkadang membuat kita sadar
bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa
melainkan hati yang ada di dalam dada
dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda
tergantung dalam keadaan apa kita berada
Namun Tuhan telah berkata,
“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,
“Waktu adalah dollar di dalam kantung”
Namun Hasan Al-Bana berkata,
“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..
Alam terus menari dalam simfoninya
Waktu…..
Umur manusia didikte olehnya
Waktu….. setiap detaknya
memakukan kita di persimpangan jalan
jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…..
semoga tak melalaikan kita
tuk terus berjalan di jalan-Nya

Lhokseumawe, November ‘9


sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEIKAT PUISI ULANG TAHUN

Oleh NN
Seikat puisi ulang tahun
dapat dipesan di para pengrajin
di tepian jalan malioboro yogyakarta
bersebelahan dengan dagangan anyaman dan cindera matawarna warni

Pagi ini kupesan puisi ulang tahun seikat
pengrajin itu mengambil kertas mulai mencoba bekerja tapi ia gagal

karena ia mencoba membuat puisi ulang tahun
yang dialamatkan kepada puisi itu sendiri
akhirnya ia hanya bisa membuat prolog

jadi mari kita ganti judul puisi ini
menjadi prolog puisi ulang tahun
seikat pula
itupun kalau boleh

satu lagi
boleh tidak boleh
akan kutambahkan di baris terakhir
selamat ulang tahun cecil mariani

Yogyakarta, 12 maret 2005 
 
sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DOA DAN ASA

Puisi Dias Nurhadias

Kencang sang waktu berlari tak mampu ku kendalikan
dan tak mampu aku perlambat lajunya
dentang lonceng malam ini tepat kau berusia dewasa
mengiringi usia kisah kita

Tidaklah berupa rangkaian bunga
Ataupun boneka beruang seperti kepunyaan Alice
Tidak pula sebuah puisi yang ditulis dengan pena penuh puja dan puji

Aku berharap di usia Tujuh Belas Mu
Kau di beri hadiah oleh Tuhan berupa kesabaran
Sehingga saat kesakitan datang kau bisa hadapi
Dan kembali berdiri meskipun tanpa satu kaki Mu

Dan Aku berdoa agar Tuhan senantiasa mengutus malaikatnya
Untuk menjaga Mu di setiap engkau melangkah
Karena aku sadari aku tak bisa menjaga Mu seutuhnya
meskipun aku berusaha untuk seperti itu

Doa dan Harap ini akan terus saya ucap
Bukan hanya saat ini . .

Garwa ku.
Maafkan Aku
Jika Aku Tak mampu menjadi Laki-laki yang semestinya menemanimu malam ini
Dan Tak Mampu memberi Apa yang kamu inginkan
di hari dimana kau dilahirkan di 17 tahun yang lalu . ..

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ULANG TAHUN SAHABATKU

Puisi Anindya Herwia Sari

Sang kuasa adil .
Memberi kita kehidupan mulia .
Teman yang mengerti keadaan .
Menuang keikhlasan .
Menimbun kebencian .
Membendung kesedihan .
Mencerahkan keceriaan .
Semua berarti .

Kelak saat kita berpisah nanti .
Dan kalau pun kelak kita di satukan kebali
dalam umur yang sudah ditentukan sang kuasa .
Keikhlasan masa lalu itu muncul .
Karena sosok seorang teman sepertimu .
Bagiku sangat lah spesial .
Dari yang tidak kenal
lalu berkenalan .
Karena keramahan .
Terima kasih kamu telah mau menerimaku sebagai seorang teman

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KERINDUAN

Oleh Niki Ayu Anggini

Ayah dimana engkau berada
disini aku merindukanmu
menginginkan untuk berjumpa
merindukan akan belaianmu

Kasih sayangmu selalu ku rindu
engkau selalu hadir dimimpi
mimpi yang begitu nyata bagiku
menginginkan engkau untuk kembali

Aku selalu mengharapkan engkau hadir
menemani aku setiap hari
menemani masa pertumbuhanku ini

Aku tumbuuh menjadi besar
tanpa engkau disisiku
tanpa engkau yang menemani hari-hariku

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AYAH SEGALANYA UNTUKKU

Oleh Clara

Ayah..
Beribu kata telah kau ucapkan..
Beribu cinta tlah kau berikan ..
Beribu kasih telah kau curahkan..
Hanya untuk anak mu..

Ayah..
Kau ajarkan ku tentang kebaikan..
Kau tunjukan ku tentang arti cinta..
Kau jelaskan ku tentang makna kehidupan..
Dan kau mendidik ku dengan sungguh kasih sayang..

Ayah..
Betapa mulianya hati mu..
Kau korbankan segalanya demi anak mu..
Kau banting tulang hanya untuk anak mu..

Kini ku berjanji untuk semua kerja keras mu..
Ku berjanji untuk semua kasih sayang mu..
Dan ku berjanji untuk ketulusan hati mu..
Bahwa aku akan selalu menjaga mu..
Aku akan selalu menyayangi mu hingga akhir hiup ku..

Terima kasih ayah untuk semua kasih sayang mu..
sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AYAH

Oleh Ratih Anjelia Ningrum

Disetiap tetes keringatmu
Di derai lelah nafas mu
Si penuhi kasih sayang yang luar biasa
Demi aku kau rela si sengat matahari
Hujan pun tak dapat membatasi mu
untuk aku anakmu...
Si setiap doamu kau haturkan segenap harapan

Ayah...
kan ku jaga setiap nasehatmu
Di setiapnafas ku
Di relung hati akan ku hangatkan nmamu
Akan ku kobarkan semua impianmu
Hanya untuk menikmati senyumu
Di ufuk senjamu
Ayah

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GETAR MALAM RINDUKU

Oleh Eko Putra Ngudiraharjo

Ingin ku gali gundukan itu
Dan mencabut papan nama setiap dukaku
Biarlah nafasku memeluk tentangmu
Puisi-puisi gelap menimangku

Sajak berairmata merangkulku
Dan merambatkan tiap ratap disekitar gelap
Seolah kau utus jangkrik untuk memejamkan lelahku
Nyanyi cerita tentang dahaga merindu
Seolah kau titipkan restumu
Lewat dingin malam menyuap

Mantra-mantra penghapus basah tatapku
Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu
Seperti suara hati yang tersampaikan padaku
Bahkan suara gitar berbeda saat anganku

Menuju kenangmu
Getar yang mencakar, melahirkan syair bak
pujangga berlagu
Ini untukmu, itu buatmu, dan doa sebagai bhaktiku
Miss u bapak ngudi raharjo.

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TANGISAN MATA BUNDA

Puisi Monika Sebentina

Dalam Senyum mu kau sembunyikan letih mu
Derita siang dan malam menimpa mu
tak sedetik pun menghentikan langkah mu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagi ku

Seonggok Cacian selalu menghampiri mu
secerah hinaan tak perduli bagi mu
selalu kau teruskan langkah untuk masa depan ku
mencari harapan baru lagi bagi anak mu

Bukan setumpuk Emas yg kau harapkan dalam kesuksesan ku
bukan gulungan uang yg kau minta dalam keberhasilan ku
bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku
tapi keinginan hati mu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata pada ku
Aku menyayangi mu sekarang dan waktu aku tak lagi bersama mu
aku menyayangi mu anak ku dengan ketulusan hati ku


sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JASA TAK TERLUPAKAN

Puisi Patma

Ibu...
kau membingbingku selama satu tahun
kau begitu baik padakuwaluapun aku sukamarah-marah

Ibu....
kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
ibu...
kau yang pintar,baik,ramah,cantik,dan sopan

Ibu...
kalau aku membuat salah tolong maafkan aku
karena aku cuma kesal karna aku selalu diejek

Ibu...
kalau aku lagi sedih kau menghibur aku
kalau aku lagi kesal kau menghiburku

Ibu...
terimakasih atas jasa-jasamu jika aku
masih sempat bertemu dengan ibu
aku sangat ingin memeluk ibu

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

DOA UNTUK IBU

Puisi Mutia Fitriyani

Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani

DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku

Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada

Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu

sumber: http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

IBU

Puisi Richard Fernando Putra Bela

Ibu kau mengandung 9 bulan
sampai engkau melahirkanku dengan susah paya
engkau merawatku sampai aku tumbuh besar
engkau juga merawatku tampa pamri
dan engkau juga merawatku dengan penuh kasih sayang

Ibu kau mengajariku berjalan sampai aku bisa berjalan
engkau juga mengajariku berbicara sampai aku bisa
Ibu kau bagaikan malaikatku
dikala aku sedih engkau selalu ada untuk menghiburku

Ibu.. aku juga merasa engkaulah pahlawanku
setiap aku kesusahan engkau selalu ada untuk membantuku
Ibu... bekerja keras
untuk menafkahiku
ibu... terima kasih atas pengorbananmu
yang engkau berikan kepada ku
Ibu...

sumber : http://www.lokerpuisi.web.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kenapa Harus Mencuri?

“Assalamualaikum Bang Doni! Ini Maul, bang!”
Maulana berteriak memanggil Bang Doni, pemilik counter pulsa yang berada di depan Rumah Sakit Harapan Indah. Counter pulsa itu buka 24 jam dan di pagi buta Maulana sudah datang membawakan kue-kue buatan ibunya untuk dijual di sana. Hal itu memang merupakan kegiatannya setiap hari. Karena ia hanya hidup dengan ibunya semenjak ditinggal sang ayah untuk selama-lamanya.
“Wa’alaikum salam, iya sebentar”, Bang Doni yang masih memakai sarung menghampiri Maulana yang sudah 5 menit menunggu di depan.
“Yah bagaimana sih bang, tokonya nggak dijaga begini”, kata Maulana berbasa-basi, sambil meletakkan keranjang berisi kue-kue di atas meja panjang yang terbuat dari kaca itu.
“Abang tadi baru selesai sholat subuh, maaf ya kalau lama”, kata Bang Doni sambil memindahkan keranjang kue tersebut.
“Saya nitip kuenya ya, bang”, kata Maulana sebelum pergi.
“Sip, belajar yang benar ya!”, Bang Doni menepuk kepala Maulana dengan lembut sebelum anak itu melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Maulana melangkahkan kakinya yang hanya dibalut dengan sepatu yang sudah ditambal berkali-kali. Kaus kakinya pun sudah mulai kendor dan berwarna kekuningan. Ia memang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun ia tetap bersemangat pergi ke sekolah pagi itu.
Begitu sampai di kelas, ia melihat beberapa teman sekelasnya berkumpul di tempat duduknya dengan Sabam. Ia berjalan mwnuju tempat duduknya itu.
“Wah keren, Sabam sudah punya handphone! Ah nanti aku minta ke mama ah!”, seru salah seorang murid yang meninggalkan tempat itu.
Sabam melihat wajah Maulana di antara wajah teman-temannya yang mengerubunginya itu.
“Mauul!! Eh minggir, sobatku sudah datang!”, Sabam segera berdiri dan menyapa sahabatnya itu.
Seketika anak-anak yang tadi berkumpul di tempat mereka langsung pergi. Maulana menaruh tasnya di atas kursi. Teman sekolahnya memang kebanyakan anak orang kaya. Namun tidak cukup baik untuk mau berteman dengan anak orang miskin. Berbeda dengan Sabam yang menerima Maulana apa adanya sebagai temannya
“Katanya kamu baru dibelikan handphone baru ya, Bam?” tanya Maulana.
“Ah handphone jelek saja kok!”, kata Sabam merendah.
Sabam segera memasukkan ponsel barunya itu ke dalam tas ketika temannya selesai meminjam benda tersebut. Ia memang tidak suka pamer, apa lagi di depan Maulana. Kehebohan tadi pun terjadi hanya karena ada salah seorang murid iseng yang tak sengaja melihat Sabam menelepon dengan handphone barunya itu lalu ia memberi tahu murid-murid yang lain mengenai handphone baru itu. Untuk ukuran murid kelas 4 SD seperti mereka saat itu, mempunyai ponsel merupakan hal yang sangat hebat.
Maulana membayangkan andaikan dirinya bisa seperti Sabam. Andai saja ia terlahir di keluarga kaya. Ia pun tidak perlu menjual kue dan repot-repot menjualnya. Belum lagi sekarang ibunya sedang sakit-sakitan. Sejujurnya ia merasa miris melihat keadaan ibunya di rumah, Sudah beberapa hari pula ia tidak menggunakan uang sakunya untuk makan di sekolah agar bisa menabung untuk membeli obat untuk ibunya.
Waktu itu, sempat sekali ibunya pergi ke dokter. Namun ternyata tagihannya sangatlah mahal. Terpaksa uang mereka untuk makan sebulan habis begitu saja. Sejak itu, ibunya tidak mau lagi pergi ke dokter. Maulana tidak pernah menceritakan masalah itu pada siapapun, termasuk Sabam sahabat baiknya. Ia tahu bahwa ibu Sabam adalah seorang dokter namun ia cukup tahu diri untuk tidak meminta apapun darinya. Ia selalu mengingat perkataan ayahnya, “Biarpun kita miskin, kita tidak boleh meminta-minta pada orang lain”
Sore harinya, Maulana kembali mendatangi counter pulsa Bang Doni. Ia ingin mengambil keranjang kue yang dititipkan tadi pagi.
“Ini Ul, uangnya. Hari ini kue nya habis loh!”, kata Bang Doni sambil menghitung uang yang terkumpul lalu memberikannya pada Maulana.
“Terima kasih”, Maul kembali menghitung uang yang diberikan. Mengalikan harganya dengan jumlah kue yang ada lalu membagi dua puluh persennya untuk Bang Doni.
“Bang ini kelebihan kayaknya”, ujar Maulana.
“Hari ini abang nggak ambil untung. Buat kamu saja”, jawab Bang Doni sambil menaikkan kedua alisnya dan tersenyum.
“Terima kasih banyak, bang!”, Maulana tersenyum senang lalu mengamankan uang tersebut di dalam tasnya.
“Bang aku boleh duduk di sini sebentar, kan? Capek banget”, kata Maulana sambil merenggangkan kakinya.
“Iya, silakan”
Maulana duduk menghadap jalan raya. Di hadapannya berdiri sebuah rumah sakit. Mobil-mobil mewah keluar masuk rumah sakit tersebut. Maulana menundukkan wajahnya, ia berpikir mengapa dunia begitu tak adil, mengapa jaminan kesehatan hanya dimiliki orang-orang berkantung tebal saja.
Ia segera sadar dari lamunannya saat seseorang memberhentikan motornya di depan counter pulsa itu. Orang itu memakai jas motor dan bertubuh tinggi besar. Ia melepas helmnya lalu duduk di atas salah satu kursi di sebelah Maulana.
“Ada yang bisa dibantu, pak?”, tanya Bang Doni.
“Saya mau jual handphone”, kata orang itu sambil meletakkan handphone nya di atas meja kaca itu. Bang Doni mengambilnya dan memerhatikan keadaan fisik benda tersebut. Sementara itu Maulana hanya mendengarkan percakapan tersebut walau sebenarnya ia tidak mengerti apa yang dibicarakan. Hingga akhirnya handphone milik bapak-bapak itu Bang Doni masukkan ke dalam meja kaca. Bapak-bapak itu pun mendapatkan sejumlah uang lalu kembali pergi dengan motornya. Uang yang didapat juga cukup banyak.
“Kok abang ngasih uangnya banyak banget?”, tanya Maulana.
“Tadi handphonenya masih bagus, keluaran terbaru pula. Makannya harganya masih mahal juga”, jelas Bang Doni.
“Oh begitu ya, bang”, Maulana mengangguk.
Akhirnya ia pun memutuskan pulang dan meninggalkan counter pulsa itu. Dalam perjalanan, ia memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba ia teringat akan handphone baru milik Sabam.
“Kalau handphonenya masih baru dan bagus, harganya mahal pula”, kata Maulana dalam hati.
Tiba-tiba ia menghentikkan langkah kakinya.
“Astagfirullah, Maul.. Aku mikir apa sih? Nggak mungkin kan aku menjual handphone Sabam! Itu sama saja dengan mencuri!”, Maulana menepuk dahinya.
Ia beristigfar berkali-kali untuk membuang pikiran negatifnya tersebut jauh-jauh.
Hari-hari pun berlalu, kini Maulana harus berjuang lebih keras lagi mengingat penyakit ibunya yang semakin parah. Mau tidak mau Maulana belajar cara membuat kue sendiri. Paling tidak pekerjaan ibunya semakin ringan dengan bantuannya. Kalau tidak bekerja sama sekali, akan makan apa ia dan ibunya?
Tetapi tidak pernah sekalipun Maulana menunjukkan wajah lelah dan kesal di depan ibunya. Pagi itu, Maulana sarapan bersama ibunya di kamar.
“Sudahlah, Ul, tidak perlu bantu ibu buat kue lagi. Nanti kamu capek. Lebih baik kamu banyak belajar supaya nanti dewasa bisa jadi orang kaya. Tidak seperti orangtuamu”, kata wanita berwajah pucat itu.
“Ibu kan sakit, Maul nggak bisa bantu banyak buat ibu berobat. Makanya Maul mau membantu ibu apa saja. Lagipula Maul senang kok sekarang bisa masak kue!”, kata Maulana sambil tertawa.
Ibunya hanya bisa tersenyum. Ia merasa seperti wanita paling beruntung di dunia bisa memiliki anak sebaik Maulana. Memang ia tidak bisa memberikan banyak hal materil pada anaknya itu, tetapi doanya sebagai seorang ibu tidak pernah berhenti dicurahkan. Harapannya satu, ingin melihat Maulana hidup bahagia di masa depannya nanti.
Hari itu, Maulana pulang paling terakhir. Ia dihukum membersihkan kelas karena lupa mengerjakan PR. Akhir-akhir ini ia memang sangat sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai “tukang kue”. Sabam tidak bisa menemaninya karena harus pergi les.
“Loh ini kan..”, Maulana melihat sebuah handphone tertinggal di dalam kolong meja mereka.
“Handphone nya Sabam ketinggalan!”, Maulana berseru sambil memerhatikan handphone tersebut yang memang kepunyaan Sabam.
Yang Maulana pikirkan saat itu adalah segera mengembalikannya. Namun rumah Sabam jauh sekali dari sekolahnya. Tidak mungkin ia pergi ke sana sendirian tanpa ongkos naik bis. Ia pun memutuskan membawa pulang handphone tersebut terlebih dahulu.
Maulana kembali mendatangi counter pulsa Bang Doni untuk mengambil hasil jualan kuenya. Hari itu keuntungan yang didapat tidak begitu besar. Ketika uangnya sudah diberikan, Maulana masih belum meninggalkan tempat tersebut.
“Bang Doni”, panggil Maulana.
“Iya, Ul?”,sahut Bang Doni.
Maulana menengok ke arah kanan dan kirinya. Tiba-tiba ada rasa penasaran di dalam hatinya untuk mengetahui berapa harga handphone milik Sabam yang ia bawa.
“Bang, kalau handphone seperti ini dijual jadi berapa?”, tanya Maulana sambil mengeluarkan handphone tersebut dari kantung celananya.
“Wah, sejak kapan kamu punya handphone, Ul?”, Bang Doni menerima handphone tersebut dan memerhatikan handphone tersebut.
“Bu-bukan handphone aku itu! Punya temanku ketinggalan di sekolah tadi”
“Oh begitu. Kalau ini dijual harganya bisa sekitar lima ratus ribu”, kata Bang Doni lalu mengembalikan handphone tersebut.
“Lima ratus ribu?”, ulang Maul. Tidak pernah Ia memegang uang sebanyak itu seumur hidupnya. Ia teringat akan ibunya di rumah. Lima ratus ribu sudah pasti cukup untuk biaya berobat ibunya.
“Iya, lima ratus ribu”, Bang Doni mengiyakan.
“Ya sudah aku cuma tanya aja kok bang. A-aku duluan ya, permisi”, Maulana segera membawa keranjang kuenya dan pulang ke rumah.
Malam itu Maulana habiskan dengan mengerjakan tugas-tugasnya. Sesekali matanya melirik pada sebuah ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidurnya. Seketika melihat ponsel itu, yang ia ingat adalah uang sebesar lima ratus ribu yang bisa ia dapat dengan mudah.
“Kalau dipikir-pikir, Sabam kan orang kaya. Pasti ia bisa beli lagi handphone seperti itu, bahkan yang lebih bagus dari itu”, gumam Maulana.
Tiba-tiba handphone itu berbunyi dan mengagetkan Maulana. Ia segera melihat siapa peneleponnya.
“Mama? Eh jangan-jangan ini mamanya Sabam yang telepon!”, Maulana mulai panik, ia menutupi ponsel itu dengan bantal agar suaranya tidak berisik.
Lama-lama suara itu tak terdengar lagi dan Maulana kembali mengerjakan tugasnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya malam itu sehingga ia memutuskan untuk menjual handphone itu esok hari. Toh Sabam tidak tahu kalau handphone itu ada pada dia.
“Dasar maling! Aku nggak nyangka kamu setega itu, Ul!”, bentak Sabam penuh amarah.
“Tu-tunggu Bam!”, Maulana berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
Teman-teman sekelasnya mencibir dan menjauhi dirinya.
“Makanya aku nggak pernah mau berteman dengan orang miskin. Orang miskin itu pasti maling!”
“Eh Maul, kalau miskin mendingan nggak usah sekolah di sini saja! Sana kerja saja jadi kuli bangunan hahahahaha!”
Maulana menutup telinganya. Ia tidak kuat mendengar cemooh dan hinaan yang memang pantas ditujukan padanya. Ia pun berlari keluar kelas. Semua orang di sekolah yang melihatnya menatapnya dengan tatapan aneh dan penuh kebencian. Air mata mulai membasahi pipinya saat ia berlari keluar dari gerbang sekolah. Yang ia tahu, ia hanya berlari dan berlari hingga ia sampai di depan rumahnya yang pintunya terbuka. Ibunya masih sakit-sakitan padahal sudah dibelikan obat, namun tidak setetes pun obat itu yang ibunya sudi minum. Maulana merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat seseorang yang sudah lama tak ia lihat. Tanpa ia sadari, air matanya terus berjatuhan.
“Bapak!”, Maulana berlari ingin memeluk bapaknya itu.
“Pak, Maul takut, pak. Semua orang benci Maul”, Maulana menangis di dalam pelukan ayahnya. Ayahnya tidak menjawab apa-apa namun ia mengelus kepala anaknya itu.
“Maul.. kamu lupa ya pesan bapak?”
“Pesan?”
“Biarpun kita miskin, kita tidak boleh berbohong. Biarpun kita miskin, kita tidak boleh meminta-minta. Biarpun kita miskin, kita juga tidak boleh mencuri”, kata ayahnya dengan lembut.
Hatinya bergetar hebat ketika mendengar perkataan itu hingga air matanya tak terbendung lagi.
Maulana terbangun dari mimpi anehnya malam itu. Pakaiannya basah dengan keringat. Nafasnya pun terengah-engah. Ia melihat handphone milik Sabam masih ada di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Tak sadar, air matanya pun menetes. Ia menyesal pernah berniat menjual benda yang bukan miliknya itu. Segala kejadian buruk di dalam mimpinya itu membuat dia amat ketakutan hingga ia terbangun dari mimpinya. Ia pun kembali sadar bahwa ia tidak dapat lagi memeluk ayahnya seperti di mimpinya itu. Maulana melihat jam yang masih berdetak di dinding kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam. Hatinya merasa terpanggil untuk segera meminta ampun kepada Allah. Dengan wajah yang masih basah dengan air mata, Maulana pergi mengambil wudhu dan melakukan sholat malam di kamarnya.
Maulana sengaja datang lebih awal ke sekolah pagi itu. Tepat seperti dugaannya, Sabam sudah datang terlebih dahulu. Wajah temannya itu terlihat kusut dan Maulana tahu penyebabnya.
“Ul, handphone ku hilang waktu pulang sekolah. Kamu lihat gak, Ul?”, tanya Sabam dengan wajah melas.
“Oh itu. Kemarin aku menemukannya di kolong meja kita. Karena takut hilang, aku bawa pulang. Ini kok aku bawa!”, jawab Maulana segera membuka tas sekolahnya.
Wajah Sabam berubah menjadi cerah kembali. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat melihat handphone yang ia cari itu masih ada.
“Syukurlah ternyata ada sama kamu ya Ul. Terima kasih banyak! Kalau nggak ada kamu pasti handphone ku sudah hilang!”, Sabam menjabat tangan Maulana berkali-kali dan mengguncang bahu temannya itu.
Hati Maulana serasa penuh ketenangan. Ia tersenyum dan menjawab singkat ucapan terima kasih dari temannya itu. Ia menaruh tasnya di kursi sebelah Sabam.
“Maulana, kamu kenapa? Kayaknya kamu lagi ada masalah ya?”, tanya Sabam tiba-tiba.
Maulana tertegun.
“Akhir-akhir ini kamu jadi sering dimarahin guru dan nggak konsen kalau di kelas. Memangnya ada masalah apa sih, Ul? Ayo cerita aja, kita kan teman!”, Sabam menepuk pundak Maulana seolah semakin memaksanya untuk bercerita.
“Sebenarnya aku sedang bingung. Ibuku sedang sakit dan kami tidak punya uang. Aku tidak tega melihat ibuku seperti itu”, Maulana akhirnya mau bercerita untuk pertama kalinya.
Sabam terdiam dan memilih lanjut mendengarkan cerita Maulana hingga selesai.
“Kalau begitu nanti malam aku dan mamaku akan ke rumah kamu. Ibu ku kan dokter. Siapa tau bisa membantu”, kata Sabam sambil tersenyum.
“Ta-tapi”, Maulana seolah tidak percaya dengan perkataan temannya itu.
“Sudah, nggak usah sungkan! Ini sebagai balas budiku karena kamu sudah mengembalikan handphone-ku!”, kata Sabam.
Tak pernah Maulana sebahagia itu dalam hidupnya. Di malam hari, Sabam beserta orangtuanya benar-benar datang ke rumah Maulana. Akhirnya ibunya pun dapat berkonsultasi langsung dengan dokter dan mendapatkan obat agar bisa lekas sembuh. Maulana amat bersyukur telah membatalkan niat buruknya waktu itu. Ternyata kejujuran tidak akan pernah membawa kehancuran. Justru kebohongan lah yang akan menjerumuskan diri ke dalam kesengsaraan. Sejak itu, Maulana dan Sabam pun menjadi sahabat karib.


sumber :http://cerita.blogbintang.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

A Story of Friendship

Nadia menutup pintu kamar mandi. Ia memutar badannya, lalu berjalan menuju tempat tidur yang berada beberapa langkah di hadapannya.
“Hai, kamu sudah bangun.” Ucap Nadia kepada seorang gadis yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Gadis itu diam, ia hanya tersenyum samar.
“Tadi Mama kamu pulang, katanya mau ngambil baju ganti buat kamu. Ya, paling bentar lagi balik, soalnya sudah sejak tadi.” Ucap Nadia sambil duduk di atas kursi yang berada di samping tempat tidur.
“Oh ya, laper nggak? Kalau laper, sarapan dulu.” Nadia mengambil semangkuk bubur yang berada di atas meja. Gadis itu masih diam, ia memandang sayu ke arah semangkuk bubur tadi, kemudian ia memandang Nadia dengan sayu.
Nadia menarik napas panjang. “Cuma sarapan Ya, kalau habis sarapan kamu nggak mau minum obat juga nggak papa.” Ucap Nadia memandang gadis di hadapannya dengan lekat. Gadis di hadapannya itu tak merespon.
“Ya sudah deh, kalau nggak mau.” Ucap Nadia sambil mengembalikan semangkuk bubur tadi ke tempat semula.
“Kita jalan-jalan aja yuk.” Ucap Nadia mengajak gadis di hadapannya. Gadis itu menatap Nadia dengan sayu. Dua bola matanya seolah mengatakan sesuatu. Ia kemudian memandang ke arah kursi roda yang berada di sudut kamar ini, ia memandang kursi roda itu dengan tatapan penuh kebencian. Gadis itu kembali memandang Nadia dengan pandangan seolah merasa sangat bersalah.
Nadia menatap kedua bola mata gadis di hadapannya itu. “Saat kamu mulai jalan dengan tertatih, aku selalu siap buat memapah kamu. Dan disaat kamu harus duduk di kursi roda, aku juga akan selalu siap mengantar kamu kemanapun kamu ingin. Kamu masih merasa nggak enak sama aku? Merasa ngrepotin? Apa dalam persahabatan itu ada rasa hutang budi? Apa dalam persahabatan itu ada perasaan sungkan? Buat aku, nggak akan pernah ada kata “ngrepotin” dalam persahabatan yang aku jalin sama sahabat-sahabat aku, termasuk kamu Ya.” Nadia menelan ludahnya.
Mereka berdua diam. Diam beberapa menit. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Saling menatap kosong ke arah depan mereka.
“Apa masih ada hari lagi buat aku?” Tanya gadis tadi kepada Nadia. “Apa masih ada hari buat kumpul bareng teman-teman, buat ngebanggain Papa sama Mama. Buat terus sama kamu Nad?” Sambungnya.
“Masih ada. Dan akan selalu ada.” Ucap Nadia optimis, ia tersenyum manis pada gadis berwajah oriental tersebut.
“Apa masih ada natal tahun depan? Apa kita masih bisa menghias pohon natal bareng-bareng? Apa kita masih bisa ngajar anak-anak yang ngaji di Masjid? Apa kita masih bisa ngajari mereka matematika dan bahasa inggris?”
“Gimana…” Gadis bermata sipit itu menelan ludahnya. “Gimana kalau aku pergi duluan? Apa Tuhan akan mempertemukan aku sama kamu besok?”
Duggg!!! Mendengar pertanyaan gadis itu, seolah ada yang menghantam jantung Nadia dengan sangat keras.
Nadia membungkukkan tubuhnya. Ia dekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Ia elus dahinya dengan lembut.
“Aku atau kamu yang pergi duluan, kita akan ketemu lagi kok besok.” Ucap Nadia lembut.
“Apa mungkin, Tuhan akan mempertemukan kita berdua?”
“Natalia. Nggak ada Tuhan yang jahat. Tuhan kita semua baik. Aku yakin, besok, kalau kita sudah sama-sama pergi dari dunia ini. Yesus dan Allah akan mempertemukan kita. Mereka, akan bekerja sama, untuk mempertemukan kita kembali. Karena, Mereka sayang kita, seperti kita menyayangi Mereka.” Ucap Nadia dengan perasaan yang penuh keperihan.
Gadis yang dipanggil “Natalia” tadi mengangkat tubuhnya, mencoba untuk duduk. Ia menutup matanya. Setetes air bening mengalir dari balik kelopak matanya yang tertutup.
“Hei, jangan nangis dong. Sudah berapa kali aku bilang? Jangan pernah nangis gara-gara penyakit kamu, itu artinya, kamu membiarkan kamu kalah oleh penyakit ini.” Nadia mengusap kedua pipi Natalia dengan lembut, menghapus air mata yang membasahi pipi gadis di hadapannya.
Natalia diam, mencoba mengatur napasnya. Mencoba untuk tak menangis di hadapan Nadia. Ia memandang kosong ke arah lukisan yang berada di kamar rumah sakit.
Nadia memandang Natalia dengan perasaan perih. Seolah ia tahu apa yang saat ini tengah dirasakan dan dipikirkan Lia.
“Lia. Kalau kamu benar-benar nggak kuat, nangis saja! Nggak papa kok kalau kamu mau nangis.”
Natalia memejamkan matanya. Tangisnya pecah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tanpa berpikir, Nadia segera memeluk gadis bermata sipit itu.
“Nangis yang puas, kalau itu bisa bikin kamu lega.” Ucap Nadia mencoba menahan air matanya yang telah memenuhi kelopak matanya agar tak terjatuh membasahi pipinya.
“A.. A… Ku, say..sayang kamu. Kenapa sih saat orang kaya kamu datang di kehidupan aku, justru aku yang akan pergi dari kehidupan kamu?” Natalia tak sanggup mengontrol emosi jiwanya. Air matanya menetes membasahi bagian belakang jilbab putih yang Nadia kenakan.
“Aku juga sayang sama kamu. Kalau penebusan dosa itu ada, kamu nggak perlu khawatir. Karena aku yakin Tuhan akan membiarkan kamu masuk ke dalam surga-Nya. Dan meskipun kita nggak bisa ketemu lagi. Aku yakin kamu nggak akan merasa sedih, dan mungkin kamu sudah lupa sama aku. Karena di surga itu hanya ada kebahagiaan Ya. Dan kamu akan terus merasa bahagia saat kamu berada di sana, meskipun sekarang kamu merasa takut dan sedih kalau kita nggak bisa ketemu lagi, tapi di surga nanti, kamu akan melupakan kesedihan itu.” Ucap Nadia sambil mengusap air matanya yang telah berhasil membasahi kedua pipinya.
Dear Beloved Best Friend
Josephine Natalia Veronica
Sesungguhnya, hanya ada satu Tuhan di sepanjang masa. Hanya ada satu agama yang paling diakui Tuhan di kehidupan ini. Dan hanya ada satu hal yang dapat mempersatukan perbedaan: Cinta di antara dua atau lebih orang yang saling menyayangi dan mengasihi.
Sampai kapanpun dan apapun yang dikatakan orang-orang tentang persahabatan ini. Aku tak akan pernah memperdulikannya, dan kamu Natalia, ku harap, kamu juga nggak akan pernah memperdulikan itu.
Karena matahari dan bumi berbeda, namun mereka saling menaungi dan melengkapi. Karena api dan tanah berbeda, namun api itu tak akan ada bila sesuatu yang berada di dalam tanah tak ada.
Meski Tuhanku satu dan Tuhanmu tiga. Meski aku hanya mengakui satu Tuhan dari Tuhanmu. Namun aku dan kamu seperti matahari dan bumi. Seperti tanah dan api.
Apapun yang orang-orang katakan tentang persahabatan ini. Aku tak peduli. Dan ku harap kamu juga tak peduli. Sampai kapanpun dan bagaimanapun juga. Kamu dan aku, tetap sahabat. Dan kamu, sebagai sahabat terbaikku. Sekalipun Tuhanmu dan Tuhanku memikirkan sesuatu tentang persahabatan kita, aku tak peduli!
Dan bila esok aku tak mampu masuk surga, dan kamu telah berada di dalamnya. Sampaikan kata maafku untuk Tuhan, bila ternyata aku memilih Tuhan yang salah. Namun bila aku yang masuk surga dan Tuhan tak mengizinkanmu, aku akan berkata pada Tuhan, “Tolong ringankan siksanya Tuhan. Karena aku menyayanginya. Bukankah Kau meyayangiku? Sebagaimana Kau menyayangi Muhammad? Bukankah Kau meringankan siksa orang yang paling ia cintai?” Dan aku yakin, Tuhan akan mengabulkan permohonanku. Karena kamu, tak pernah membuatku untuk meninggalkan dan melupakan Tuhanku. Seperti Abu Thalib yang tak pernah membuat Muhammad saw meninggalkan, melupakan, dan berhenti setia kepada Tuhannya.
Aku dan kamu, seperti Muhammad saw dan Abu Thalib. Selamanya.

sumber : http://cerita.blogbintang.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Persahabatan yang Berawal dari Permusuhan

Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis. Kita tak pernah tau kapan dan melalui peristiwa apa kita bisa menemukan seorang sahabat. Mungkin ada persahabatan yang berawal dari perkelahian.
Kring… kring… kring, si penunjuk waktu kembali membangunkanku. Aku pun bergegas untuk bangun, merapikan tempat tidur dan mandi.
“I feel good…!” aku bernyanyi nyaring di dalam kamar mandi. Untuk memuaskan keinginanku yang tak kesampaian menjadi seorang penyanyi terkenal.
Setelah selesai mandi, aku memakai seragam dengan rapi dan menyisir rambut. Saat sedang asik menyisir rambut, tiba-tiba terdengar suatu suara dari arah dapur.
“Jangan berlama-lama sisirannya! Ayo cepat kamu sarapan!” Ternyata itu adalah suara makhluk yang paling cerewet di bumi ini, namun ia sangat kusayangi. Itulah mamaku. Tak terbayang olehku saat dalam kandungan, ia selalu membawaku kemana-mana, tak pernah aku ditinggalkannya.
Tiba di dapur, ku lihat makanan favoritku terhidang di meja makan, yaitu gulai ayam.
“Nyam-nyam, enak banget gulai ayamnya ma. Jika ada kontes masak-memasak gulai, mama pasti menang.” pujiku kepada mama sambil melahap makananku.
“Hahahaha… bisa saja kamu ini.” Jawab mama sambil tersenyum simpul kepadaku.
Waktu telah menunjukkan pukul 06.30 Wib, saatnya untuk berangkat ke sekolah. Tak lupa aku membawa topi upacara dan memasukkannya ke dalam tas, karena saat ini adalah hari senin. Namun baru saja mau melangkah keluar rumah, ada suara itu lagi terdengar (suara mama).
“Eits..! jangan langsung pergi, pamitan dulu pada mama.” ucap mama dengan tegas ambil menjulurkan tangan kanannya.
“Oh iya, aku lupa.” aku pun menyalam tangan mama dan berpamitan untuk berangkat sekolah.
“Hati-hati di jalan ya, nak.” seru mama dari depan pintu rumah.
“Iya ma.” jawabku
Kutelusuri jalan dengan seorang diri. Sambil berjalan aku bernyanyi dengan sendu (dengan sedikit mengubah kata-kata dari lagu itu, agar nyanyian itu sama seperti pengalamanku). “Makan-makan sendiri, cuci piring sendiri, ke sekolah jalan sendiri, pulangnya juga sendiri”
Setelah lama berjalan, akhirnya aku sampai di sekolah.
“Huh… capek.” Kutarik nafas panjang sambil menghempaskan badan ke bangku. Saat lagi enak duduk di dalam kelas sambil mengobrol dengan teman-taman, tiba-tiba… “Teng… teng… teng” terdengar bunyi bel masuk.
“Huh… bunyi itu kembali terdengar” ujarku dalam hati sambil mengerutkan dahi. Lalu kuambil topi upacara dari dalam tas dan segera mengenakannya.
Saat di lapangan upacara aku berbaris di sebelah kanan Nia dan di belakang Sofi. Upacara pun berjalan dengan hikmat, namun saat dipertengahan, aku mencium bau busuk dari arah depanku. Karena yang berbaris di depanku Sofi, maka aku mengira bahwa dialah yang berbau busuk. Tanpa pikir panjang, aku langsung menyindirnya dengan pedas.
“Teman-teman, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pernafasanku. Seperti bau busuk makanan basi, sumbernya berasal tepat dari arah depanku. Mungkin ada seseorang yang tidak mandi dan tidak menyuci bajunya. Sehingga bau busuk dari badannya itu menyebar ke seluruh penjuru bumi.” Sindirku pedas. Mendengar sindiranku, Sofi pun menoleh ke belakang.
“Hei! tutup mulutmu itu ya, setiap ke sekolah aku selalu mandi dan memakai seragam yang sudah dicuci bersih. Jadi jangan sembarangan menuduh dong!” tutur Sofi dengan wajah yang merah seperti tomat.
“Memang kenyataannya kok, buktinya bajumu bau busuk.” balasku dengan sedikit menaikkan alis sebelah kiri.
“Pokoknya bau busuk itu bukan berasal dari bajuku.” ujar Sofi yang sepertinya mau menjatuhkan butiran-butiran kristal itu dari matanya.
“Ha… ha… ha, mana mungkin kamu mau mengaku.” ucapku dengan nada yang agak sedikit mengejek.
“Terserah kamu deh, mau percaya padaku atau tidak. Dasar nenek sihir!” kata Sofi sembari mengusap butiran-butiran kristal yang tak terasa telah membasahi pipinya.
Karena kejadian itu, aku dan Sofi pun bertengkar.
“Teng… teng… teng…” bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Aku pun segera pulang ke rumah dengan berjalan kaki.
Sesampai di rumah, kuganti baju lalu makan siang dan tidur.
T
ak terasa hari sudah menunjukkan sore. Aku pun segera mandi.
“Aku jahat sekali ya, sudah menuduh Sofi sembarangan, padahalkan belum ada buktinya.” kataku dalam hati sambil menyadari semua kesalahanku.
Hari telah menunjukkan pukul 19.00 Wib, waktunya untuk belajar. Aku bergegas ke kamar dan menyusun jadwal pelajaran untuk esok hari. Saat baru membuka tasku, tercium bau yang tak sedap.
“Seperti bau busuk yang di sekolah tadi.” ungkapku dalam hati.
Aku mulai penasaran asal bau busuk itu. Setelah mengeluarkan seluruh isi tas, aku pun menemukan asal bau busuk itu. Ternyata bau busuk itu berasal dari topiku yang terkena bakwan basi pada minggu lalu. Aku pun terdiam dan mulai berpikir, ternyata aku telah salah menuduh Sofi, rupanya bau busuk itu berasal dari topiku.
Esok harinya aku berangkat ke sekolah. Di sekolah aku melihat Sofi sedang menyapu kelas. Kulemparkan senyuman padanya, namun ia malah membuang muka. Ternyata dia masih marah padaku. Aku berusaha untuk meminta maaf padanya dengan cara mendekatinya, namun ia selalu saja pergi saat aku menghampirinya.
Sudah 5 hari aku berusaha untuk meminta maaf padanya, namun tak pernah berhasil. Hari demi hari kulalui dengan rasa bersalah yang amat dalam. Akhirnya ku temukan ide untuk meminta maaf padanya, yaitu dengan memberinya sepucuk surat dan coklat.
Selang sehari, akhirnya suratku dibalas oleh Sofi. Ia menerima permintaan maafku dengan syarat apabila aku tidak mengulangi kesalahan itu lagi, dan akhirnya kami pun kembali berteman dan malahan semakin akrab saja.
Keesokan harinya aku mengajak Sofi untuk bermain di taman sambil menikmati indahnya sinar keemasan si kulit bundar.
“Fi, lihat deh indah banget ya sinar matahari itu. Aku sangat terpesona padanya.” ucapku
“Iya nih, aku juga sangat senang melihat sinar matahari pada sore hari.” jawab Sofi
“Lihat deh, disana ada pohon besar yang sangat indah. Ayo kita ukir nama kita pada batang pohon itu, agar persahabatan kita tidak pernah pudar dan tetap abadi.” kataku sambil mengambil 2 buah paku yang berada di dekat kami untuk mengukir batang pohon itu.
“Ide kamu bagus juga.” jawab Sofi setuju.
Nama kami pun terukir indah di batang pohon itu.
Selesai mengukir, kami berjalan-jalan di dekat sebuah kolam yang agak dalam. Entah mengapa, tiba-tiba Sofi terperosok masuk ke dalam kolam itu.
“Tolong-tolong aku tenggelam.” teriak Sofi keras sambil berusaha menjaga kepalanya agar tetap berada di atas permukaan air. Kemudian tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam kolam itu dan berusaha menolong Sofi. Kudorong badannya dengan sekuat tenaga agar ia bisa keluar dari kolam itu, namun tak kusadari perlahan-lahan tubuhku terdorong masuk ke dalam lumpur yang lengket. Akhirnya Sofi bisa keluar dari kolam itu, namun malah aku yang tak bisa menyelamatkan diri, karena tubuhku telah terdorong masuk ke dalam lumpur.
Karena melihat keadaanku yang sudah lemas dan hampir tenggelam, maka Sofi memanggil orangtuanya, karena kebetulan rumahnya sangat dekat dari taman. Namun saat Sofi dan orangtuanya tiba, kepalaku sudah tak kelihatan lagi di atas permukaan air. Aku sudah tenggelam karena terjebak di lumpur yang dalam. Kemudian dengan sigap ayah Sofi mencariku di dalam kolam. Akhirnya aku ketemu dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Setelah sadar, kulihat papa, mama, Shofi, om Dahlan (papa Shofi), dan tante Nuri (mama Shofi) berdiri memperhatikanku yang berbaring diatas tempat tidur. Setelah melihatku sudah sadar, Sofi pun langsung berbicara kepadaku.
“Makasih ya atas pertolonganmu tadi” ungkap Sofi sambil mengusap air mata yang telah membasahi pipinya yang imut itu.
“Iya sama-sama.” jawabku sambil tersenyum simpul kepadanya.
“Aku mau bertanya satu hal padamu. Mengapa sih kamu tadi rela mengorbankan nyawamu demi aku?” tanya Sofi penasaran. Kemudian aku pun menjawab pertanyaan Sofi dengan satu kalimat.
“Karena kita sahabat” jawabku sambil tersenyum. Kemudian kami berdua pun saling berpelukan dan meneteskan air mata haru


sumber : http://cerita.blogbintang.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memori

Hari masih gelap, tetapi sekolah sudah terlihat ramai. Hari itu murid-murid kelas 3 akan berdarmawisata, sekaligus akan mengadakan acara perpisahan di Sukabumi. Aku dan teman-teman pagi-pagi sekali sudah tiba di sekolah dan siap untuk berangkat. Kira-kira pukul setengah enam pagi kami telah berangkat dengan menggunakan bis. Sepanjang perjalanan, kami berdiskusi untuk mempersiapkan kembali rencana yang telah kami buat, untuk acara perpisahan nanti.
“Seperti yang telah kita rencanakan kemarin,” Lintang sang ketua kelas membuka diskusi, “Jadi nggak, kelas kita nyanyi buat acara perpisahan?” sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh teman-temannya.
“Jadi lah, Lin. Masa udah capek-capek latihan terus nyanyinya nggak jadi,” kata Oliv, yang kemudian disambut anggukan dari teman-teman lainnya.
“Oke, oke, sebentar. Aku mau catet dulu sumbangan acara dari kelas kita,” kata Lintang, kemudian mulai mencatat.
“Ada lagi nggak, nih, yang mau nyumbang acara? Selain tadi, yang nyanyi sekelas,” tanya Wulan pada teman-teman lainnya.
“Aku mau baca puisi. Boleh nggak?” tanya Dina.
“Boleh banget!” kata Lintang.
“Tapi bacanya berdua, aku sama Fifi,” lanjut Dina.
“Boleh, yang penting udah nyumbang acara,” jawab Lintang, kemudian mencatat lagi.
“Aku tetep ngiringin anak-anak nyanyi kan, nanti?” tanya Raihan.
“Iya, sekalian buat ngiringin puisi juga bagus,” jawab Lintang sambil mencatat.
“Kalau ngeband, jadi nggak Lin?” tanya Aryo sambil memainkan stik drum yang dibawanya.
“Jadi. Tapi personil lainnya pada siap nggak?”
“Beres. Band kita udah siap kok, lahir batin,” jawab Aryo santai.
Lintang menuntaskan catatannya. “Ada lagi nggak, yang mau nyumbang acara?” tanyanya pada seluruh teman-temannya. Tapi tidak ada yang menjawab.
“Udah segitu aja cukup, Lin. Nggak usah banyak-banyak. Nanti nggak ditampilin semua,” ujar Ayu.
“Iya, kamu bener, Yu. Tapi ngomong-ngomong, teks lagunya Westlife yang kemarin udah pada hapal semua, belum?”
“Udah Lin. Kita tinggal nyanyi aja,” jawab Ayu.
“Oke! Kalau udah semua, aku mau kasih catatan ini dulu ke guru,” kata Lintang.
Sekitar pukul setengah sebelas kami telah tiba di Sukabumi. Tepatnya di sebuah tempat wisata disana. Udaranya sangat sejuk. Karena semuanya sudah kelaparan, guru-guru pun memutuskan untuk kami makan siang dahulu, sebelum menikmati tempat wisata tersebut. Masing-masing diberi kotak makanan dan diberi kebebasan untuk duduk dimana saja, asal jangan berpencar terlalu jauh dari pengawasan guru. Aku dan teman-teman lainnya langsung mencari tempat yang teduh.
“Di bawah pohon sebelah sana, kelihatannya bagus tuh, tempatnya!” ujar Fifi pada yang lainnya.
“Nggak ah, disitu kelihatannya banyak semut,” kataku, yang disambut beberapa teman lainnya.
“Kalau begitu yang di sebelah sana aja, gimana? Kelihatannya teduh dan nggak banyak semut,” kata Dina sambil menunjukkan pada yang lainnya.
Semua pun mengangguk setuju. Kami segera menuju kesana.
Disana kami makan sambil latihan menyanyi untuk acara nanti. Setelah makan, kami berfoto-foto. Kemudian berkumpul kembali ke tempat yang telah ditunjuk oleh guru untuk mengumpulkan muridnya. Setelah diberi beberapa peringatan dan petunjuk, kami diperbolehkan menjelajah tempat itu sepuasnya, sampai waktu yang telah ditentukan. Aku dan yang lainnya menuju ke beberapa tempat yang unik dan berfoto disana, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menjelajah kebun teh.
Di kebun teh, sudah ada bapak kepala sekolah dan beberapa guru yang telah lebih dulu kesana. Sebenarnya kami juga ingin kesana, tapi jalanannya menurun dan licin. Nabil dan Sigit sudah duluan kesana. Memang antara kami, anak cowok dan anak cewek jarang ada yang mau saling membantu. Terutama anak cowok yang maunya menang sendiri. Tapi saat itu, beberapa anak cowok membantu kami untuk turun.
“Sini, siapa yang mau duluan turun?” tanya Andi sambil bersiap.
“Eh, siapa duluan tuh! Aku nggak berani,” kata Wulan agak takut.
“Aku bantuin deh!” kata Ega sambil menjulurkan tangannya pada kami.
Lintang maju duluan. Perlahan sambil dipegangi ia menuruni jalan setapak yang licin itu. Yang lain kemudian mengikuti. Aku pun sebenarnya takut, tapi aku berusaha untuk melaluinya. Sampai di bawah, sudah ada Sulthon yang menunggu.
“Di bawah juga licin! Nanti di dekat jembatan hati-hati!” teriaknya memperingati sambil membantu kami melompati semak belukar.
Ketika Wulan sudah sampai di bawah dan dipegangi Sulthon, saat melewati semak belukar, ternyata tanah itu sangat licin. Karena kurang hati-hati, Wulan pun terpeleset. Tapi badannya tak sengaja mendorong Sulthon sehingga Sulthon juga ikut terpeleset dan badannya jatuh ke semak belukar yang penuh Lumpur.
“Aduh, maaf ya, Ton! Aku nggak sengaja ngedorong kamu! Jadinya kamu yang jatuh. Maaf ya. Kamu nggak apa-apa, kan?,” ucap Wulan meminta maaf. Ia lalu bangun dengan dibantu Fifi dan Oliv. Tampaknya ia masih kaget dengan kejadian barusan.
“Iya, nggak apa-apa. Cuma kotor bajunya,” jawab Sulthon sambil bangkit dan membersihkan bajunya dari lumpur.
Ega dan Andi bukannya merasa kasihan, malah menertawakan Sulthon. Tapi mereka membantu membersihkan baju Sulthon. Kemudian mereka menyusul anak-anak perempuan yang sudah berjalan duluan.
Sampai di kebun teh, kami berfoto-foto. Udaranya sangat sejuk. Baru sebentar kami menyusuri kebun teh, hujan mulai turun. Semakin licin tanah yang kami pijak.
“Gimana nih? Udah mulai hujan. Apa kita balik lagi saja?” kata Dina mulai panik.
“Wah, jangan! Percuma kita sudah susah-susah kesini!” bantah Aryo sambil melindungi kamera yang ia bawa dari hujan.
“Terus, sekarang kita mesti gimana?” tanyaku juga mulai panik. Hujan semakin lebat.
“Kita jalan aja terus. Ikutin jalan ini,” kata Andi, lalu menunjukkan arah dan menuntun teman-temannya.
“Memang kamu tahu jalan disini, Ndi?” tanya Aryo ragu.
“Ya udah. Ikutin aja feeling aku,” jawab Andi sok yakin.
Anak perempuan diam saja. Mereka nggak tahu sama sekali jalan pulang. Mereka pasrah mengikuti Andi daripada nggak bisa pulang sama sekali. Hujan mulai reda. Kami semua kemudian singgah di sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Di dalamnya tidak ada orang. Hanya ada tumpukan jerami. Kami beristirahat disana.
“Akhirnya sampai juga!” kata Andi kemudian duduk dan menselonjorkan kaki.
“Sampai gimana, Ndi? Ini sih, namanya kita masih nyasar, tau!” kata Ega sambil mendorong badan Andi.
“Ya, daripada kita berkeliaran di jalan dan nggak tahu arah, lebih baik kita istirahat dulu disini,” jawab Andi kalem.
Sementara itu, Aryo, Raihan, dan Sulthon melihat air terjun. Tak jauh dari rumah itu.
“Eh, sini lihat! Ada air terjun disana!” teriak Aryo pada yang lainnya sambil menunjuk ke arah sekitar pepohonan.
Semuanya keluar dari rumah itu dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Aryo.
“Ke sana, yuk! Nanti kita foto-foto disana!” kata Lintang girang.
“Boleh juga. Ayo kesana!” sambut Dina dan yang lainnya semangat.
Meski jalannya licin apalagi sehabis hujan, tapi mereka tetap bersemangat menuruni tangga tanah yang licin itu. Namun Iko dan Fifi memilih untuk tidak ikut ke air terjun.
“Kenapa kalian nggak ikutan?” tanya Raihan pada Fifi dan Iko.
“Aku mau nemenin Iko, soalnya kalau kedinginan, asmanya bisa kambuh,” jawab Fifi sambil membawa Iko masuk.
“Sohib banget kalian berdua,” komentar Raihan, kemudian menyusul anak-anak lain ke air terjun.
Di air terjun, airnya sangat dingin. Kami bermain air disana, saling mencipratkan air, dan tak lupa berfoto-foto. Tapi beberapa menit kemudian, hujan deras pun turun kembali. Kami segera kembali ke rumah bambu tadi dengan menaiki undakan tanah yang licin.
Tiba di rumah bambu tadi, kami terduduk kelelahan. Baju kami basah kuyup, tapi untungnya tas tadi kami tinggal di dalam bis, jadi tidak ikut kebasahan. Hujan deras masih mengguyur di luar sana. Aku melihat jam dari handphone. Sudah jam setengah tiga. Sebentar lagi kami harus segera berkumpul bersama guru-guru lainnya di dekat bis. Aku memberitahu yang lainnya.
“Udah jam setengah tiga, nih. Sebentar lagi, kan, kita disuruh kumpul,”
“Oh iya ya! Waduh, kalau hujan seperti ini terus, gimana kita bisa pulang?” kata Ayu pada yang lainnya.
“Kita telpon Bu Sawitri aja! Bilang kalau kita terjebak hujan di kebun teh,” usul Lintang.
“Bener juga. Nih, pakai saja handphone aku,” kata Fifi, lalu menyerahkan handphonenya pada Lintang.
Lintang meraih handphone itu dan mencoba menghubungi wali kelas. Namun saat dicoba tidak bisa. Ternyata tidak ada sinyal handphone disana.
“Waduh, kok nggak ada sinyalnya, ya?” kata Lintang sambil melangkah ke dekat pintu untuk mencari sinyal.
Semuanya melihat ke handphone masing-masing yang untungnya tidak ikut basah karena kehujanan tadi. Memang benar, sinyalnya tidak ada. Lintang masih berusaha mencari sinyal. Beberapa menit kemudian, sinyal handphone itu muncul seiring redanya hujan. Segera ia menghubungi wali kelas. Semuanya harap-harap cemas menanti hasil pembicaraan Lintang dengan Bu Sawitri.
Tak sampai semenit, Lintang mematikan handphonenya. Semuanya bertanya.
“Gimana, Lin? Apa kata Bu Sawitri?”
“Bu sawitri bilang kalau kita disuruh nunggu hujan dulu sampai agak reda, setelah reda langsung kita cari jalan pulang. Guru-guru dan anak-anak lainnya bersedia menunggu disana,” jawab Lintang pada teman-temannya.
“Itu hujan udah agak reda. Ayo kita segera cari jalan pulang!” kata Andi, lalu memimpin teman-temannya.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, lewatlah Nabil dan Sigit bersama anak-anak kelas lainnya.
“Nabil!” panggil Ega.
Nabil menoleh, “Lo, kok, kalian masih disini?” tanyanya.
Ega menghampiri Nabil dan Sigit.
“Kalian tahu nggak, jalan balik ke tempat guru-guru dan anak-anak lain kumpul?”
“Makanya kita sekarang mau kesana,” jawab Sigit.
“Ya udah kita bareng aja,” kata Ega. Lalu menoleh pada anak-anak lain yang berkumpul di belakangnya.
“Ayo, kita ikutin Nabil sama Sigit aja!”
Kami pun mengikuti rombongan Nabil dan Sigit. Meski diiringi gerimis dan lagi-lagi melewati jalan yang becek, sambil berlari kami mengikuti mereka. Supaya memudahkan kami berlari, akhirnya kami melepaskan sepatu dan mengumpulkannya pada sebuah plastik besar, yang kemudian dibawa oleh Ega. Ternyata jalannya berbeda dengan jalan sewaktu berangkat tadi. Kali ini tidak melewati tanjakan yang licin, tetapi melewati rerumputan pendek yang basah oleh hujan.
Bermula dari Ega yang jatuh gara-gara terpeleset rumput yang basah, anak laki-laki lainnya mengikuti jejak Ega. Mereka sengaja terpeleset, lalu meluncur di atas rumput yang basah itu. Kemudian tertawa bersama. Dengan baju yang basah kami semua terus berlari, hingga sampailah di tempat guru-guru dan anak-anak lain berkumpul. Lalu kami segera masuk ke bis, mengambil tas masing-masing dan membawanya keluar. Kemudian menuju kamar mandi terdekat, untuk berganti baju. Beruntung aku dan teman-teman membawa baju ganti. Kami buru-buru mandi sekalian dan berganti baju, lalu berkumpul di dekat bis.
Kepala sekolah memberi tahu kami untuk mempersiapkan panggung untuk acara perpisahan nanti malam. Kami berbagi tugas. Ada yang mendirikan panggung, ada yang mempersiapkan alat-alat lain untuk acara. Aku dan teman-teman mendaftarkan acara yang akan kelas kami bawakan pada panitia acara. Lalu kami sekelas berkumpul untuk berlatih nyanyi lagi sebelum tampil di panggung nanti.
Acara perpisahan dimulai pukul setengah delapan malam, setelah kami selesai sholat dan makan. Dimulai dari sambutan kepala sekolah, ketua panitia, lalu wali kelas. Setelah itu acara hiburan. Kami menunggu giliran kelas kami untuk menampilkan hiburan. Tak lama, Dina dan Fifi maju ke panggung untuk membacakan puisi dengan diiringi petikan gitar Raihan. Lalu giliran kami sekelas untuk bernyanyi. Lagu My Love-nya Westlife pun kami nyanyikan. Setelah selesai acara hiburan, dilanjutkan acara api unggun. Aku dan teman-teman duduk lesehan membentuk lingkaran di atas rumput yang masih agak basah. Kami merenungi apa yang kami telah alami selama tiga tahun ini dan peristiwa yang terjadi hari ini.
“Tiga tahun tuh, ternyata cepet banget, ya,” kata Dina pelan.
Semuanya mengangguk.
“Terutama hari ini,” kata ku,” Waktu di kebun teh tadi. Nggak biasanya anak cowok bantuin kita. Bahkan mereka sampai ikut-ikutan nyasar bareng kita,”
“Itu bener,” kata Fifi,” Pengalaman hari ini tuh, nggak bakal aku lupain. Pertama kalinya anak cowok nggak menang sendiri. Anak cowok dan anak cewek saling kerjasama, saling tolong menolong. Ternyata mereka semua itu sebenarnya baik, tapi kita aja yang anggap mereka anak-anak bandel dan jahil,”
“Hari ini kita jadi saling mengerti. Bahwa di antara kita semua seperti layaknya bersaudara. Tapi sebentar lagi kita akan berpisah. Kita harus berjanji, akan terus mengingat peristiwa hari ini, baik cewek maupun cowok, untuk mengingatkan bahwa persahabatan kita tak akan hilang karena terpisah oleh jarak,” kata Lintang, lalu mengisyaratkan untuk saling memeluk teman-temannya.
Kemudian malam itu, setelah acara perpisahan selesai, kami pun pulang, dengan membawa sebuah pengalaman dan kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan.
Cerpen Karangan: Nur Fajrina
Facebook: https://www.facebook.com/nina.fajrina.52
Penulis adalah mahasiswi Institut Teknologi Indonesia Program Studi Teknologi Industri Pertanian 2011, aktif di organisasi dan dakwah kampus


sumber : http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Persahabatan Antara Spon dan Kapas


Dulu, hiduplah para hewan dan benda-benda yang unik yaitu kura-kura, burung, kapas, spon dan banyak lagi, di antara mereka ada 2 sahabat yang sangat erat yaitu kapas dan spon, kapas tinggal di darat dan spon tinggal di air, dan di antara spon dan kapas ada sebuah kura-kura yang ingin bisa bermain dengan mereka.
Pada musim panas di suatu pantai bernama pantai kelapa. Kura-kura itu melihat spon dan kapas bermain di tepi pantai, karena merasa kesepian kura-kura itu menghampiri mereka,
“hai bolehkah aku ikut bermain bersama kalian” ucapnya dengan malu-malu
“aku Kapas, aku adalah sebuah kapas, itu namaku” ucap Kapas
“aku Spon itu namaku” ucap Spon sambil menjabat tangan Turtel.
Semenjak musim itu Turtel selalu bersama kapas dan spon, namun kedua sahabatnya itu tak pernah menganggap Turtel ada di antara mereka, hingga Turtel pun mencari akal untuk bisa bersahabat dengan mereka, ia pun mengunjungi rumah burung merpati putih untuk meminta saran.
“jadi apa yang bisa aku lakukan mereka burung merpati”, mohon Turtel
“aku tau, kapas kan takut air dan spon tidak bisa terlalu lama di darat, jadi saat mereka sendirian, kau bisa jadi pengantar surat, dengan itu mungkin mereka bisa menganggapmu berarti”, jelas Emily si burung merpati
“tapi darimana aku bisa dapat daun tulis dan lidi?”, tanya Turtel
“aku bisa membantumu tapi tolong buatkan aku sebuah kalung mutiara untuk menghiasi diriku”, ucap burung merpati tersebut
5 hari kemudian…
“hore… aku berhasil” ujarnya, sebuah kalung mutiara berhasil dirangkainya, ia segera pergi ke rumah burung merpati.
“ini indah sekali Turtel terima kasih, kebetulan aku sudah menyiapkan daun dan lidi yang kau minta, ambillah” ucap Emily
Turtel senang sekali ia segera pergi ke rumah kapas
“kapas apa kau mau menulis surat untuk spon” tanya Turtel, lalu kapas pun menulis surat itu, tapi permainan surat-suratan itu tidak menyenangkan, Turtel capek sekali, surat surat itu berlanjut hingga malam hari, sampai akhirnya ia pun tidur walau ia tau kalau ia belum mengantarkan surat dari spon.
Esok harinya Turtel pergi ke tepi pantai untuk menemui kapas dan spon yang sedang bermain, namun mereka sama sekali tidak menghiraukan Turtel
“hai teman ada apa?, kenapa kalian begini?”, tanya Turtel
“kenapa kau tidak mengantarkan suratku ke kapas?”, marah spon
“maafkan aku spon, harusnya kalian tau, aku sudah capek dan mengantuk untuk megantarkan surat itu, aku hanya ingin jadi sahabatmu” ucap Turtel
“oh ya?, sekarang kau bukan sahabat kami lagi” marah kapas, lalu Turtel menangis dan pulang ke rumahnya, lalu spon dan kapas pun bermain lagi
Saat esok hari tiba, kapas telah menunggu spon di tepi pantai, ia tidak tau kalau spon sedang sakit, kapas menunggu hingga malam tiba, karena merasa khawatir, ia pun masuk ke dalam air, namun tiba-tiba badanmya terasa berat sekali, kapas terombang-ambing oleh ombak pantai, saat itu Turtel melintas dan melihat kapas yang terlihat tak berdaya, ia menyelamatkan kapas dan membawanya ke darat, kapas pun selamat, ia minta maaf dan berteman dengan Turtel lagi.
“Turtel terima kasih, tolong bisakah kau antarkan suratku pada spon, jika kau capek aku tak akan memaksamu untuk menyampaikannya”, lalu Turtel pun mengantarkan surat itu kepada spon dan bersahabat lagi seperti kemarin.
SELESAI
Cerpen Karangan: Elis Handayani
Facebook: Elis Handayani


sumber: http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Just For A Moment

“Yoon A. Kenapa Kau tetap disini?”
Aku mendongak, menatap wajah Pamanku yang nampak kesal.
“Apa?” tanyaku.
“Kau tidak lihat salju di luar?” tunjuknya keluar jendela. “Kau membiarkan benda putih itu merendam rumah Kita. Bukankah sudah kubilang Joon akan datang. Kenapa Kau masih bermalas-malasan?”
“Joon?” mataku melebar. “Akan datang? Benarkah?”
“Apa Aku lupa memberi tahumu? Dia akan makan malam dengan Kita hari ini, waktunya dipercepat.”
“Yeah!” Aku pun langsung melompat dari sofa dan meraih jaket lalu berlari menuju gudang di samping rumah untuk mengambil pengeruk.
Dua puluh menit kemudian, aku sudah berhasil menyingkirkan separuh salju yang merepotkan itu dari halaman rumah Pamanku yang sempit. Dan saat itu pula, sebuah mobil —dengan susah payah— masuk ke halaman.
Joon.
Aku segera memanggil Pamanku. “Paman, Dia sudah datang!”
Tergopoh-gopoh Ia berlari menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan Joon.
“Joon! Bagaimana kabarmu?” Paman menepuk bahunya.
Dia melihatku, tanpa senyum —seperti biasa. Aku cepat-cepat berpaling, meneruskan pekerjaanku yang hampir selesai. Aku tak sanggup untuk menyapa Pria itu. Jadi, kubiarkan mereka masuk dan berbincang-bincang tanpa ada yang mengganggu.

Fyuh… selesai. Aku mengusap keringat di dahiku. Menjatuhkan tubuhku di atas salju yang tidak perlu kusingkirkan.
Joon… Hatiku berbisik kecil menyebut namanya. Sekarang aku harus memanggang kue dan memanaskan cokelat untuknya. Aku pun segera berlari ke dapur melewati pintu belakang. Dan ternyata Pamanlah yang sudah menyiapkannya.
“Yoon A, Kau kemana saja, kenapa lama sekali?” Tanya Paman. “Antarkan ini padanya.”
Segera kuterima baki berisi sepiring Biskuit Kacang dan tiga mug cokelat panas yang disodorkannya. Kutarik nafas panjang, lalu —berusaha— mantap berjalan. Saat tiba di ruang depan, aku melihat separuh badannya —Joon— menyembul dari balik sofa yang menghadap halaman depan.
Sedikit gemetar, kuletakkan nampan di meja.
“Silahkan…” Kusodorkan semug cokelat ke hadapannya, kemudian berlalu kalau saja Joon tidak memanggilku yang sudah melangkah.
“Yoon A,” panggilnya.
Kuhentikan langkahku.
“Kau tak ingin menyapaku?” tanyanya datar
Aku menelan ludah dengan susah payah lalu berbalik dan memaksa bibirku untuk tersenyum. “Hai, apa kabar?”
Joon berdiri, berjalan ke arahku dan berhenti dua meter di depanku. “Hanya itu?” Ia mengangkat sebelah alisnya.
“Um… bagaimana kabar…” aku bingung. “… Ibu?”
Ia mendengus. “Kau tahu sendiri kalau orangtuamu sudah pergi.”
Bodoh. Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi tunggu, apa yang dikatkannya barusan? Orangtuamu? Oh, bagus. Jangan anggap mereka lagi!
“Mmm, benar.” Kurasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, jadi Aku berbalik.
Pasti Joon akan berbicara lagi. Pasti. Pikirku.
“Yoona,” lihat? “Kau tidak bertanya tentang…”
Jangan katakan!
“… sahabatmu?”
Tolong jangan..
“Ya… Kau tahu sendiri,”
Sudah… cukup,
“Dia merindukanmu — itu katanya,”
Berhentilah…
“Kau mengingatnya?”
Ya. “Tidak,”
“Ji Ya. Kau tak ingat?”
Baki di tanganku lepas, tubuhku gemetar. Kenapa Kau menyebutnya?
“Mengapa Kau tak bertanya tentangnya?”
Apa urusanmu! “Hanya kebetulan Aku tak ingat padanya.”
“Lantas?”
Aku berbalik. Terkadang seseorang harus marah! “Kenapa Kau tanyakan hal itu padaku? Lagipula, apa urusanmu kemari?!”
“Kau ingin tahu?” Ia maju selangkah dan mencondongkan wajahnya. Cukup membuatku mundur selangkah. Lalu Aku terkesiap.
Joon memelukku! “Aku merindukanmu… adik.” Katanya.
Adik?
Lama kurindukan kata itu. Air mataku mengalir lalu terisak pelan. “Aku juga…”
“Juga apa?”
Kulepas pelukannya lalu memukul lengannya pelan. “Juga… merindukanmu.” Aku tersenyum kecut.
“Yoona,”
“Apa?”
“Wajahmu memerah.” Ia tertawa.
Belum sempat aku menyemprotnya, Pamanku datang.
“Cukup basa-basinya. Yoona, apa Kau akan terus berdiri disana dan membiarkan Pamanmu yang tua ini kelelahan menyiapkan makanan?” katanya.
“Tentu tidak. Dan tadi itu juga bukan basa-basi!” jawabku. Aku menoleh pada Joon, memberi isyarat untuk menunggu sebentar.

“Makan malam yang menyenangkan, Paman.” Ucap Joon. Ia akan pulang.
Paman menepuk bahunya. “Datanglah kapanpun Kau mau.”
Joon memandangku, mendekat lalu memelukku, lagi. “Aku akan merindukanmu.”
Kubalas pelukannya. “Sampaikan salamku pada Ji Ya. Aku akan datang pada ulang tahunnya bulan depan, dan tinggal sepekan.”
Joon melepaskan pelukannya dan menatapku nakal.
Aku buru-buru menyanggah. “Jangan katakana apapun. Dia akan tetap menjadi sahabatku. Tidak lebih!”
Ia tertawa pendek. “Baiklah, sampai jumpa.” Ia pun masuk dan segera melajukan mobilnya hingga tampak semakin mengecil dan akhirnya menghilang di tikungan.
Paman mengalihkan pandangannya padaku. “Kau lekaslah tidur. Biar Aku saja yang membereskan semuanya.”
Aku menurut lalu melangkah menuju kamar dan berbaring di tempat tidur. Pikiranku berjalan.
Dulu, Setelah ditinggal mati Ayah-Ibu saat Aku dan Joon —Kakaku masih tinggal berdua di Seoul, seiring waktu aku semakin kagum padanya, menghidupiku dengan usaha pas-pasan, bekerja siang-malam, dan modal kecil kami yang memang dari keluarga yang berkecukupan.
Ji Ya. Ah…, rasanya sudah sangat bersalah. Dia sahabatku, Dia pernah menyukaiku, tapi Aku tak membalas perasaannya. Dan aku sempat marah dan membencinya entah mengapa.
Aku benar-benar tak menyangka dan tak habis pikir kalau aku akan menyukainya. Bukan, bukan Ji Ya. Tapi Joon —Kakakku sendiri. itu hal paling bodoh yang pernah kulakukan. Dan aku berusaha mencari alasan untuk menafsirkannya. Joon marah ketika tahu hal itu. Aku sangat takut, jadi aku memutuskan untuk pergi ke Belanda, rumah Pamanku. Dengan surat yang mewakili pamitku pada Joon.
Selama empat tahun terakhir, hubunganku dengan Joon sangatlah tidak baik. Namun Ia tetap memaksakan datang menjengukku setiap tiga bulan sekali pada musim yang berbeda.
Dan hal itu bukanlah ide yang bagus untuk dikenang kembali.
Tapi untunglah hari ini Dia datang dan Kami membenahi semuanya. Dan itu sangat baik.
Aku menarik selimut, menutup mataku dan berusaha untuk terlelap.
Cerpen Karangan: Zilvia Jamielah
Facebook: Zee
Nama: Zilvia Jamielah
Tetala: Sumenep, 20 Maret 1998
Alamat: Guluk-Guluk Sumenep Madura, PP. Annuqayah
E-mail: Zjamielah[-at-]yahoo.co.id
Facebook: Zee


sumber: http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gloaming

Sebuah padang rumput ilalang yang luas, memancarkan cahaya coklat keemasan di senja hari seperti ini. Diselingi bunga-bunga yang merekah di sekitar padang itu. Gemericik air sungai yang mengalir kecil tanpa riak. Sungai berwarna bening kebiruan dan mampu memantulkan pemandangan apik di atasnya -seakan akan ada kota serupa di bawah air sungai itu-. Jembatan panjang melengkung di atas sungai yang tenang itu. Tak ahyal muda mudi berdua di setiap sudut jembatan untuk memadu kasih, apalagi di sore hari seperti ini. Atau.. bagi wanita dan lelaki yang sendirian, tempat ini sangat cocok untuk melepas lelah dan penat setelah bekerja seharian.
Udara nan sejuk dan segar seperti tidak pernah tersentuh siang hari. Semburat oranye di langit membuat pemadangan semakin indah. Teratai-teratai liar yang mengambang di pinggir sungai nampak sangat asyik terombang-ambing perlahan mengikuti arus kecil dari sungai itu. Dan… lihatlah. 2 sosok yang ada di tepi sungai itu, Terduduk tenang saling memunggungi. Tapi, mereka tidak seperti bertengkar, melainkan sebuah pancaran manis dari kedua pasang mata itu. Bibir keduanya melengkungkan pelangi terbalik. Bercahaya, warna warni dan indah. Si lelaki nampak asyik menorehkan guratan demi guratan jejak pensil di atas kertas gambar berukuran A3 di tangannya. Ia menggunakan pahanya sebagai alas. Sementara si gadis asyik memainkan setangkai bunga mawar merah yang merekah.
Aku mengusap jendela kaca yang sedikit berembun. Semakin tertarik melihat pasangan muda itu. Sangat manis, sangat membuatku iri -andai aku boleh iri pada mereka-.
“Apa yang sedang kau gambar, oppa?” si gadis menoleh ke arah lelaki di belakang punggungnya, sementara si pemilik punggung lebar itu hanya tersnyum -meski senyum tak bisa terdeteksi oleh si cantik-
“sesuatu yang indah dan berharga. kau ingin tahu?”
Gadis itu kembali menghadap ke depan dan menggeleng,
“aniya.. aku tahu apa itu..”
“jinjjayo? kau jangan sombong, bunny!”
“eoh? i’m positive! i’ll true..”
“yes.. you’ll always know that.. cause my heart is on your heart too..
“aish… so sweet..”
Aku menyungging senyum. Betapa manisnya pasangan itu. Mataku beralih ke arah jembatan. Jembatan panjang penghubung 2 bukit yang mengapit sungai kecil di tengahnya. 2 sosok tengah saling berdampingan dengan tangan satu sama lain yang saling bertautan, menantang langit sore, seakan-akan mereka jauh lebih indah dari langit sore yang merona itu. Si tampan meraih anak rambut yang menggantung di pelipis si cantik.
“please, baby.. don’t disturbe my psyco..” kata lelaki tampan itu seraya memegang kedua bahu si gadis. Gadis itu memiringkan wajahnya, menatap innocent pada lelaki tinggi itu.
“what did i do, oppa?”
“you are over beauty, chagi..” menjawil hidung tinggi si gadis sampai pipinya merona -semerah langit sore ini-
“kau ini, oppa..”
“why? i’m not a liar”
Gadis itu memeluk tubuh tegap di hadapannya. Dipejamkan kedua mata hazle itu -dan bersamaan dengan itu manik coklat madu yang hangat sekaligus teduh tertutup kelopak mata yang juga indah-. Benar-benar pahatan tangan Tuhan yang almost perfect. aiss.. no! it’s too perfect.
Aku tersenyum, tatkala gadis itu melotot kaget seketika karena tiba-tiba lelaki itu mencium bibir cherry-nya. Aku hanya bisa berdecak, lucu. Dan sejurus kemudian, gadis itu memukul-mukul dada bidang lelaki yang berhasil mencuri benda manis miliknya itu.
Di sudut jembatan yang lain, ada sepasang muda mudi yang tengah berdiri berhadapan. Namja bertubuh tegap itu menangkup kedua pipi gadis berambut panjang sebahu itu. Gadis itu nampak innocent menatapnya.
“Baby.. would you be my future..”
Mata hazle itu melotot sempurna, dan bersamaan dengan itu, air mata mulai menggenang -memenuhi pelupuk matanya-.
“hiks.. op-oppa… nan… hiks..”
“sst.. uljima, baby..” lelaki itu mengecup kedua kelopak mata gadis itu. Mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantelnya, dan berlutut saat itu juga.
CLING!
Sebuah kotak berwarna merah muda itu dibuka di hadapan gadis itu. Cincin bertahta-kan batu mulia kecil berbentuk bunga mawar.
“i’ll marry you, baby.. please.. please be mine” Gadis itu tak sanggup lagi menahan isaknya hingga ia menangis sesenggukkan. Dihapusnya air mata itu cepat cepat.
“yes of course oppa! i’m ready oppa… i’ll marriage with you..”
Aku menggeleng gemas. Gadis itu kenapa sangat lucu? Dia berteriak sekencang itu menjawab lamaran sang kekasih, Tapi justru itu yang berbeda. Aku memutuskan menyudahi melihat aksi-aksi romantis lainnya, terakhir aku lihat lelaki itu menggendong kekasihnya ala brydal style. Aku memungut bucket bunga lily yang sudah ku siapkan sejak sore tadi. Ya… ini sudah malam. Aku merekatkan jaketku, dan mulai melangkah keluar.
Angin sepoi-sepoi malam ini membuatku harus berkali kali menghembus napas yang menghasilkan asap di sekitar wajahku. Padahal ini belum puncak musim dingin tahun ini. Mataku berputar, melihat sebuah bangunan gereja yang sangat klasik. didominasi warna coklat dan ada lampion-lampion yang memancarkan kehangatan di sudut-sudutnya. Sepertinya sedang ada acara pernikahan.
Aku berhenti sejenak, melihat pemandangan bagian dalam gereja yang benar-benar hangat. nampak mempelai lelaki dengan tuxedo putih bersih dan dasi yang menghias lehernya. sangat tampan. sementara mempelai wanita dengan gaun senada sampai menutupi seluruh kakinya yang jenjang, tapi meng-ekspos dengan jelas bagian bahu cantik miliknya. Keduanya berdiri di depan altar, dan mengucap janji sesuai tuntunan pendeta.
“aku berjanji. tidak akan meninggalkan istriku, dalam suka maupun duka. dalam sehat maupun sakit. aku akan tetap menjaganya, tidak akan membuatnya menangis, dan berusaha menjadi suami terbaik untuknya”
Lelaki itu menoleh ke arah istrinya.
“Aku berjanji. Tidak akan meninggalkan suamiku dalam suka maupun duka. saat sehat ataupun sakit. aku tidak akan bersikap manja, aku akan bangun lebih pagi darinya, aku akan menjadi istri yang menyiapkan sarapan pagi untuknya, dan aku akan memberinya anak anak yang lucu”
Undangan sedikit terkekeh mendengar penuturan janji gadis itu, begitu juga aku.
Sangat polos, Tapi.. tulus.
Aku menghela napas dan kembali merapatkan jaketku sebelum melanjutkan untuk berjalan. Dan sampai di dekat persimpangan, aku melihat ada mobil Lamborgini yang melintas dengan dekorasi yang indah.
“JUST MARRIED”
Tulisan itu terpampang jelas di badan belakang mobil. Aku tersenyum, sangat indah membayangkannya.
Tapi.. saat itu juga, tiba tiba…
BRAAAKK!!
Mobil itu, tak bisa menghidari laju container dari arah berlawanan hingga akhirnya, mobil itu lepas kendali dan menabrak pohon. Aku melihat kedua mempelai diselamatkan oleh warga sekitar. Si wanita nampak bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Tak jauh berbeda dengan lelakinya yang juga tak sadarkan diri. Sungguh malang nasib mereka.
Mereka? Ya.. mereka…
Jung Young Mi dan Choi Min Ho.
Aku melangkah memasuki komplek pemakaman -yang terletak di bukit hijau-. sungguh indah, dan kau akan lupa jika ini adalah sebuah pemakaman.
Lagi lagi semua rekaman itu diputar ulang oleh memoryku. Memory manis yang berujung getir dan membuatku kini mati rasa. Aku ingat semuanya. Tak pernah lupa.
Aku meletakkan bucket bunga lily putih di atas pusara dengan nisan berukir
“JUNG YOUNG MI”.
Ya.. Jung Young Mi mendiang “ISTRI”ku.
Kisah di atas? Mungkin beberapa dari kalian mengira aku tengah menceritakan orang lain? hh.. aku berharap itu kisah orang lain.
Memory itu, segala yang terjadi 40 tahun lalu antara aku -Choi Minho- dan Jung Young Mi tidak akan terlupakan, bahkan tak ada niatan untukku melupakannya. Kisah kisah itu berpadu jadi satu, dan aku selalu mengingatnya-memutarnya kembali- seperti potongan potongan film.
Aku ingat, saat aku setiap sore mengajaknya ke padang ilalang di belakang bangunan appartemnt-ku. Aku ingat, saat di anniversary kita yang pertama, aku melukis wajahnya di antara pemandangan padang ilalang dan sungai kecil di sisinya. Aku ingat saat membenahi anak rambutnya yang sempat membuatku semakin menggilai kecantikkannya. Aku juga ingat betapa manisnya bibir cherry milik Youngmi. Dan aku.. benar benar ingat saat aku menggendongnya pulang seusai melamarnya dengan cincin. Dan saat itu, ia berteriak lantang saat menjawab lamaranku. Aku ingat, saat aku menatapnya gugup mengucap janji di altar. Dan.. aku ingat -meski aku ingin menghapus memoryku yang satu ini- saat aku mulai melajukan lamborgini berdekorasi dengan Youngmi diiringi tepukan tangan para undangan. Aku ingat betul wajah Youngmi terakhir kali, saat ia memejamkan mata dan bersimbah darah. Aku ingat! selalu ingat!
Tanpa terduga, air mataku jatuh. Membasahi bgian atas makam istriku di dalam sana.A NDAI dia masih ada, kini.. kami sebgai pasangan suami istri akan membawa anak anak kami ke padang ilalang itu. Bermain bersama dan mengambil foto keluarga. Aku tersenyum miris. Bayangan Youngmi masih ada di sisiku. Ia memang sudah tiada, tapi hatinya… tetap ada disini. Di duniaku.
Aku mengusap nisan itu, lalu memberikan senyuman terbaikku hari ini.
“Baby.. what are you doing? Are you missing me? I Hope..”
“Baby.. kau masih mengingatku? Benarkah? Kau bahkan meninggalkan hatimu di sini.. Kumohon, jangan kau ambil hati itu, ya.. biar aku yang mengantarnya..”
“Sweetheart.. kau ingat janjimu? Kau tidak akan meninggalkanku, kau akan menyiapkan sarapan, kau akan bangun lebih pagi, kau akan… memberikanku anak anak lucu. kau ingat?”
“tidak.. aku tidak kecewa kau tidak menepati janjimu. aku yakin, kau juga akan menepatinya suatu saat nanti..”
“Bunny.. Kumohon.. tetaplah cintai aku seperti aku yang jstru semakin mencintaimu.. karena aku.. terlahir hanya untukmu…”
“Chagi… kau butuh teman? Entah kenapa, aku sangat merindukanmu.. bisakah kita bertemu? Tidak..tidak perlu kau repot repot mengunjungiku.. biar aku yang mengunjungimu… Baby..”
CLAK!
Dan sejurus kemudian darah menyembur kemana mana dari pergelangan tangan Minho.
END
Ada satu hal yang tidak akan mati.. HATI.
dan Hati adalah tempat dimana CINTA bersarang
Cerpen Karangan: Arila Nur Alvisah
Facebook: Arila NurAlvisah
Anyeong all, nan Arila imnida. Aku author baru di sini. aku tinggal di Bogor. Semoga suka, ya sama karya aku. Gomawo..

sumber: http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Terimakasih Sahabatku

Sekolah baru, teman baru dan mungkin juga sahabat baru. aku baru saja pindah ke Jakarta. setelah 14 tahun berada di Surabaya. aku yang meminta untuk tinggal di Jakarta, sebab aku tak suka suasana disana, semua sombong dan semua memilih-milih teman. dan aku berharap disini tak seperti yang sudah ku alami disana.
Pastinya ini juga suana baru. pagi hari aku bersemangat untuk ke sekolah baru, semua serba baru pastinya. tapi, pagi itu aku kena sial. sebuah mobil mewah menyemprotku dengan air yang masih tergenang dekat torotoar jalan bekas banjir. orang itu segera turun dan meminta maaf padaku. aku tak boleh ke sekolah dengan pakaian kotor seperti ini. orang itu pun mengajakku ke rumahnya dan memberikan ku sebuah seragam sekolah seperti punyaku. orang itu juga bersekolah sama denganku.
“Maaf sekali lagi”. katanya menyesal.
“Tak apa, lagi pula aku sudah mendapatkan seragam baru darimu!”. kataku sambil tersenyum menghibur.
“Kau kelas berapa?”.
“Satu, dan kau?”.
“Dua. tapi aku tak melihatmu sewaktu MOS”.
“Tentu saja, aku tak ikut MOS saat itu, aku masih berada di Surabaya. ayahku sudah meminta izin ke kepala sekolah”.
“Oh jadi kau perempuan itu. kau sungguh cantik”.
“Benarkah? terimakasih”.
“Mmm.. siapa namamu?”.
“Tiara, panggilannya Ara. kau?”.
“Annisa, panggil saja Nisa”.
Dia sangat baik. ku kira orang Jakarta sombong, ternyata aku salah.
Dua menit kemudian aku sampai ke sekolah. dia mengantarku ke kelas yang akan ku tempati belajar bersama teman baru..
“Terima kasih sekali lagi”.
“Ok”.
Semua memperhatikanku, apa ada yang salah denganku? sepertinya tidak ada. laki-laki menatapku, perempuan membicarakanku. mengapa? tapi tak apa lah, aku akan berusaha untuk cepat akrab dengannya. aku akan duduk di bangku paling belakang.
Di Rumah
“Bagaimana harimu?”. tanya seorang pemuda yang baru saja keluar dari kamar mandi. aku tak mengenalnya, apa dia juga keluarga ku? lantas, mengapa aku tidak tahu itu?
“Baik, kau siapa?”.
“Hahah, kau tak tau aku? aku ini Om mu. saudara dari ibumu. ya pasti kau tak mengenalku. aku baru pulang dari New york. kau sudah besar rupanya”. katanya sambil tertawa kecut.
“Oh, tapi kau tampak muda. apa kau memakai ramuan awet muda?”.
“Kau ini. aku masih berusia 19 tahun”.
“Oh, maaf!”.
Di Sekolah
Siapa dia? pria memkai topi berwarna merah dan memakai kacamata baca, kemudian membuka topinya, wow orang itu sungguh keren. tapi apa dia mau bergaul dengan wanita? menurutku dari gayanya yang keren itu dan banyak perempuan yang mendekatinya, dia seorang pria yang mempunyai sebuah kelompok, atau bisa dibilang geng bermotor atau apalah. dan aku tak punya kesemepatan untuk mendekatinya.
‘HAAPPP’ seseorang membuatku terkejut dari belakang. “Nisa”. kataku sambil tersenyum.
“kau sedang apa?”.
“aku sedang melihat pria yang sedang duduk sambil membaca buku disana”.
“Ryan (Rayen Bacanya)? kau menyukainya?”.
“Ryan? ah tidak. kau mengenalnya? apa dia anggota geng?”.
“Bukan, Ryan itu sahabat dekatku. ayo ku kenalkan kau dengannya”
Nisa mengajakku kesana. jujur, aku suka padanya, tapi aku tak mau bilang dulu pada Nisa.
“Hey!”. kata Nisa menepuk pundak Ryan dari belakang kemudian duduk di sampaing Ryan.
“Hey! tadi aku mencarimu”.
“Aku datang telat. eh ini teman baru ku, siswi kelas satu, namanya Tiara, panggilannya Ara!”.
“Ara!”. kataku sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Ryan”. jawabnya sambil tersenyum. akupun duduk disamping Nisa.
lewat tiga bulan, aku sudah akrab dengan Ryan, aku sudah tau semua tentang Ryan dan Nisa. mereka kini menjadi sahabatku. meski beda umur dan kelas, tapi itu tak memisahkan kita untuk menjalin sebuah hubungan ‘SAHABAT’
hingga suatu malam, aku mencurahkan semua pada Nisa, aku mengakui kalau aku menyukai Ryan sejak pandangan pertama.
“Oh, jadi kau suka dengan Ryan?”.
“Iya. hehe. bagaimana menurutmu?”.
“Bagus. apa kau mau minta bantuan kepadaku?”.
“Apakah boleh”. tanya ku bersemangat.
“Tentu saja”.
Aku senang bisa mengenal Nisa. dia sangat mengerti dengan perasaanku. seminggu telah berlalu. Ryan mengatakan cinta padaku. dengan perasaan senang aku menerimanya. tapi aku melihat aada yang berbeda dengan Nisa, Nisa tak pernah bersamaku lagi setelah aku jadian dengan Ryan. aku pun ke kelasnya dan mengajaknya makan sebagai tanda terimakasih.
“Nisa. kau kenapa? mengapa kau tak pernah gabung dengan ku dan Ryan?”.
“Hahah, tak apa. nanti kata orang aku akan mengganggu hubungan kalian, atau ada orang ketiga maksudku”.
“Hahah, tidak apa Nisa. nah itu Ryan. ayo kesana”.
Mereka berdua tak berbicara sama sekali, aku heran. apa mereka punya masalah tanpa aku ketahui?
“Kalian kenapa? apa kalian marahan?”. tanyaku sambil menatap keduanya.
“Tidak, kami tak punya masalah. tenanglah!”. jawab Nisa. Ryan hanya membaca bukunya. tiba-tiba Nisa sesak dan pingsan, Ryan membawa Nisa ke ruang UKS. ryan tampak begitu perhatian dengan Nisa, Ryan menjaga ketat Nisa dan memegang tangan Nisa.
Muncul sebuah kecemburuan, tapi tak apa. mereka sahabat. jadi apa salahnya.
Esok harinya Nisa tidak masuk sekolah, Ryan juga tak menemuiku hari ini. aku melihat ada yang berbeda dengan Ryan. dan aku mendengar kalau Nisa meninggal dunia hari ini, aku segara ke rumahnya. disana ada Ryan yang sedang menangis sambil menyuruhnya bangun dan mengguncangkan tubuhnya. nisa sudah berbaring tak bernyawa disana, aku mendekat dan berusaha untuk menghibur Ryann.
Ibu Nisa memberiku selembar surat, aku membacanya setelah pulang dari pemakaman.
ISI SURAT NISA
“To. Ara
kalau kau sudah membaca surat ini, berarti aku sudah beristirahat untuk selama-lamanya. makasih untuk kamu Ara yang sudah menjadi sahabtku selama beberapa bulan terakhir ini. aku senang bisa mengenalmu.
ada yang ingin aku bicarakan padamu. tapi maafkan aku baru bisa memberitahumu sekarang. aku tak ingin mematahkan harapanmu. sebenarnya dua hari setelah kau bilang kau suka pada Ryan, aku sudah jadian dengannya, sengaja aku tak memberitahumu malam itu, karena aku peduli dengan perasaanmu. aku berpesan jaga Ryan untukku, jangan kau membuatnya menangis, hibur dia jika bersedih, dan alihkan pembicaraannya jika ia memulai membicarakan tentangku. ini demi kau juga. sampaikan salam terakhirku untuk Ryan.
Annisa
Apa? a..aku.. aku sudah membuat mereka memutuskan sebuah hubungan yang spesial, aku.. aku seorang yang jahat, aku tak tahu kalau mereka menjalin hubungan, maafkan aku Nisa, maaf.. aku tak tahu itu, seandainya aku tau, aku tak akan membuatmu berpisah dengan Ryan. mengapa kau melakukan itu?
Baiklah, aku akan melakukan semua demi kau, karena kau sudah banyak berkorban padaku, terutama berkorban Ryan untukku.
Aku harus menemui Ryan besok.
“Apa kau menyukaiku?”. Tanyaku sambil duduk di sampingnya.
“Maksudmu?”.
“Iya, aku bertanya. kau suka padaku?”.
“Mengapa kau bertanya begitu”.
“Jawab yang jujur”.
“Iya!”.
“Jawab yang jujur, aku tau kau berbohong, aku tau ini semua ide Nisa untuk mempersatukan kita dan membuat hubungan mu putus dengannya. maaf, maafkan aku. aku tak akan mengganggumu lagi. tapi aku harus mengabulkan perintah Nisa, meski itu sulit, yaitu membuatmu tersenyum. baiklah, aku pergi”.
“Tunggu”. kata Ryan memegang tanganku. “Aku akan berusaha untuk mencintaimu, aku akan berusaha untuk terbiasa padamu, meski itu sulit. kau tak perlu pergi dariku. kita tetap satu, sebagai sahabat dan sepasang kekasih”.
“Apa itu karena Nisa?”.
“Tidak, ini karena hatiku”. katanya tersenyum dan memelukku. Aku sungguh sayang pada Ryan, ini bukan karena Nisa, tapi karena hatiku juga. aku takkan melupakanmu Nisa, dari semua pengorbananmu untukku.
TERIMAKASIH SAHABATKU
Cerpen Karangan: Yustika Amaliah
Facebook: Yustika Amaliah / http://www.facebook.com/yustika.amaliah.9
Nama: Yustika Amaliah
TTL: Maros, 26 Mey 1997
Umur Sekarang (2014) – 16
Sekolah: Smk Negri 1 Lau Maros (SUL-SEL)

sumber: http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sahabat Yang Terlupakan

Sewaktu SD aku dan temanku selalu bersam tertawa bersama. Kita bermain bersam kita berbagi suka duka bersama. SD ku tempat aku bergembira sahabatku alasan aku bahagia, sahabatku orang yang bisa membuat senyuman di saat aku menangis, sahabatku selalu membuat aku percaya diri. Sahabatku orang yang mau bercerita denganku sahabatku alasan aku menangis ketika perpisahan sekolah walau aku mencoba bertahan tetap saja airmata membasahi pipiku.
Seiring berjalannya waktu aku menjadi anak SMP aku menemukan sahabat baru yang baik. Aku dan sahabatku berpisah karena di SD ku hanya aku yang masuk SMP itu. Seiring berjalannya waktu aku merindukan sahabat SD ku. Aku mencoba mengirim pesan dengannya tapi dia tidak membalasnya. Aku berkata mengapa bisa dia melupakannya aku selalu mengingat kejadian saat SD dengannya, bahkan aku mengingat kejadian yang biasa saja. Aku mengingat sewaktu sahabatku bercerita kepadaku cerita yang luar biasa tentang perasaannya.
Sahabatku tak mengingatku sama sekali mungkin karena dia kini memiliki sahabat baru. Aku tetap menyayangi sahabatku. Walau kini sahabatku itu telah melupakanku aku tetap tidak akan melupakannya. Aku berharap kini kita akan seperti dulu. Sahabatku aku berharap kau membaca ini agar kau tau aku tak akan melupakan itu. Bukan hanya 1 sahabatku yang melakukan ini ada banyak sahabatku yang menjauh tak ingat aku. Bukan aku berlebihan.
Cerpen Karangan: Mega
Facebook: risanda mega s

sumber : http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Persahabatan di Tengah Hujan

Namaku adalah Tiara McRainne, aku mempunyai sahabat bernama Mutia. Mutia adalah anak yang pintar, dan berani. Arti hidup yang sebenarnya aku jalani ketika aku mulai bersahabat dengan Mutia. Aku dan Mutia mempunyai kalung hati yang menandakan persahabatan kami. Di kalung tersebut, tertulis kata “MUTIARA FOREVER”. Mutiara adalah gabungan dari nama kami, yaitu Mutia dan Tiara. Persahabatan kami selalu diganggu oleh “Two Angels”.
Ya, mereka adalah Jessica dan Claura, 2 orang perempuan yang bersahabat. Mereka memang lebih kaya, lebih putih, kulitnya pun lebih mulus dariku. Tapi, itu semua tak sebanding dengan sifat mereka yang terlalu sombong dengan apa yang telah mereka miliki. Mereka selalu menganggapku itu sebagai sampah yang tak pernah berguna. Hanya aku yang selalu dihina oleh Jessica dan Claura, karena aku adalah orang miskin.
Berbeda dengan Mutia yang mama dan papanya memiliki perusahaan yang terkenal. Tapi, Mutia sangat baik, dia selalu membelaku habis-habisan. Suatu hari, saat aku dan Mutia sedang bersekolah. Jessica dan Claura datang kepadaku. Memang, saat itu sedang istirahat, siswa diperbolehkan bermain, makan, membaca buku dan lainnya.
“Tiara! Kamu jangan dekat-dekat Mutia lagi tau! Mutia itu kaya, cantik, kulitnya mulus, lah… kamu? Kamu itu miskin! Udah deh… jauhin aja tuh Mutia! Kalau enggak, kamu pasti akan tau akibatnya dari kami!” kata Jessica mengancamku. Aku hanya menundukkan kepala. Tetapi, berbeda dengan Mutia, Mutia tidak terima aku dikatakan seperti itu langsung membela dengan berani.
“Kalian! Jangan sekali-kali mengancam dan mengejek Tiara seperti itu! Dia adalah manusia yang cantik dari luar maupun dalam! Daripada kalian, hatinya busuk!” kata Mutia membelaku. “Udah deh Mutia, kamu itu pantasnya jadi teman kami, bukan jadi teman dia!” kata Claura sambil menunjuk aku dengan ketus. “STOP! Sana pergi!” kata Mutia yang sudah tidak tahan lagi dengan “Two Angels”.
Jessica dan Claura pun pergi dengan marah. “Kamu tak apa kan Tiara? Maafkan mereka ya, kalau mereka selalu menghinamu,” kata Mutia ramah. “Aku tidak apa-apa Mutia” jawabku. Aku dan Mutia kembali ke kelas. Hari mulai siang, saatnya untuk pulang. Mutia sudah pulang oleh sopirnya. Aku mengayuh sepedaku dengan gontai. Di tengah perjalanan, terlihat mobil sebuah mobil menghampiri sepedaku. Mobil itu melaju kencang dan menyenggol sepedaku hingga terjatuh.
Kaki dan tanganku berdarah. Pintu mobil itu pun terbuka, keluarlah 2 anak perempuan yang sepertinya tidak asing lagi di mataku. Mereka adalah Jessica dan Claura! “Hei, anak kampung, jika kamu tidak menjauhi Mutia kamu akan mendapat balasan dari kami. Inilah salah satu balasan dari kami! Kalau masih saja kamu bersama Mutia, kami akan menghukummu lebih dari ini. Kalau perlu, kami akan menghukum Mutia juga! Tapi untuk Mutia akan lebih kejam! Kami tidak main-main!” ancam Jessica dilanjutkan oleh anggukan kepala Claura.
“Tapi…” kata-kataku terputus. “Tidak usah tapi-tapian! Kami tidak mau tau, kamu harus menjauhi Mutia!” ucap Claura ketus. Jessica dan Claura pun kembali masuk ke mobilnya dan pergi. Aku bangun, dan kembali mengayuh sepedaku menuju ke rumah. Aku langsung masuk ke kamarku sambil menangis. Maafkan aku Mutia, aku terpaksa harus menjauhimu supaya kamu tetap aman…, kataku dalam hati sambil menangis.
Ah… hari ini memang hari yang menyedihkan bagiku, Mutia yang selalu membelaku sekarang harus kujauhi? Aku tidak rela, tapi… ini demi Mutia! Aku tak mau Mutia dihukum oleh Jessica dan Claura! Keesokan hari yang mendung… “Tiara, sekarang kan istirahat kita ke perpustakaan yuk!” ajak Mutia. Aku hanya bisa pergi meninggalkan Mutia, karena sedari tadi aku dan Mutia diawasi oleh Two Angels. Aku berlari ke taman belakang sekolah sambil terus menitikkan air mata.
Aku menangis di bawah pohon rindang. “Maafkan aku Mutia…,” tangisku.
“Tiara! Kenapa kamu pergi dari aku? Maafkan aku kalau aku bersalah padamu,” kata Mutia yang ternyata sedari tadi mengikutiku. Aku kembali berlari… langit yang sedari tadi mendung, mulai menurunkan hujannya yang dingin… Di tengah hujan, aku berlari menghindar dari Mutia… Mutia pun terus mengejarku…
Di tengah hujan kami berlari saling mengejar. Hujan turun, makin deras. Namun, tiba-tiba… Mutia terjatuh dan mulutnya mengeluarkan darah. Tak lama ia tergeletak di tanah. Aku yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arah Mutia. “Mutia, kamu kenapa?” kataku khawatir. “Maafkan aku Tiara… Aku telah lama punya penyakit yang tak ada obatnya… Jika aku terkena hujan sambil aku berlari… Kondisiku akan melemah…,” cerita Mutia.
“Maafkan aku juga Mutia telah menjauhi kamu…,” kataku. “Iya, gak apa-apa… Selamat tinggal Tiara… Semoga persahabatan kita selalu ada selamanya… Jaga dirimu baik-baik, Aku akan selalu ada di dalam hatimu Tiara… Terimakasih atas segalanya,” kata Mutia. “Jangan ngomong seperti itu, kamu pasti akan selalu ada bersamaku disini, di dunia ini!” kataku. “Tidak Tiara, waktunya sudah tiba… Selamat tinggal sahabatku…,” kata Mutia seraya memejamkan matanya.
“Tidak… tidak kita akan selalu disini di dunia ini Mutia…,” kataku. Mutia tak bergeming. “Mut.. Mut… MUTIA!!” teriakku. Hujan membasahi tubuhku dan Mutia yang telah tiada. Air mata berlinang tanpa henti. Semua murid dan para guru berdukacita atas kepergian Mutia.
Selamat tinggal sahabatku, engkau akan selalu ada dalam hatiku. Aku yakin, kamu akan selalu ada untukku disini, di sampingku. Selamat tinggal, semoga engkau senang ada disana…
Cerpen Karangan: Cornelia Krisna Wijaya dan Frida Dyah PP (menuliskan cerpen secara duo)
Facebook: Cornelia Krisna Wijaya dan Frida Dyah

sumber: http://cerpenmu.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ANDA PENGUNJUNG KE